18. Madu

80.3K 4.7K 654
                                        

Selamat membaca!

Jam berapa kalian lihat ini?

Setelah memastikan Wildan tidak ada lagi dalam pandangan matanya, Hanum segera berbalik, perempuan itu lalu membalas pelukan Jia untuk beberapa detik sebelum mendorong tubuh Sahabatnya perlahan agar rengkuhan mereka melonggar.

"Kamu sudah siap, kan? Ayo berangkat," ajak Hanum mengalihkan kedua tangannya ke pundak Jia.

   Jia menurunkan tatapan ke tubuhnya sendiri, perempuan itu masih mengenakkan pakaian tidur bermotif kartun jepang kesukaannya. "Sekarang?"

"Iya," jawab Hanum.

"Kamu nggak mau masuk dulu?" Tanya Jia memutar kepala ke arah pintu rumahnya yang terbuka lebar, melihat Alan yang sedang berdiri sambil menyandarkan tubuh besarnya ke tepi pintu.

  "Aku tunggu di luar aja, cepat ke dalam, ganti baju." Instruksi Hanum.

   "Yakin? Aku lagi masak rendang loh di rumah, kamu juga belum makan kan?"

   "Tadi aku sudah makan,"

   "Ya, sudah, aku mau siap-siap dulu, kamu tunggu di sini, ya? Lima menit!" Jawab Jia sebelum mengacungkan kelima jarinya.

"Jangan lama-lama,"

"Iya," seru Jia sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

   Sepeninggal Jia, Alan bergerak maju, laki-laki yang badannya terbalut kaos polos berwarna hitam itu berjalan ke arah Hanum.

"Kamu ikut?" Tanya Hanum basa-basi.

   Alan memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana. "Iya,"

   "Terus siapa yang akan menjaga rumah?"

   "Kalau aku tinggal di sini, terus siapa yang akan menjaga kalian berdua di luar sana?" Jawab Alan balik bertanya.

   Hanum hanya menganggukan kepalanya pelan begitu mendengar respons dari Alan.

   Merenungkan bagaimana kalau Wildan juga bersikap demikian, namun tampaknya hal itu hampir tidak mungkin terjadi. Jangankan untuk mengkhawatirkannya, menanyai kabar saja sangat jarang laki-laki itu lakukan.

•••

   Jarak antara rumah dengan tempat tujuan yang cukup jauh membuat mereka merasa jenuh, tidak ada yang membuka mulut, hanya suara mesin mobil menyala yang terdengar di telinga.

Alan lalu menyalakan radio mobilnya, memutar musik yang dibawakan oleh Ungu dan Rossa, perlahan tapi pasti suasana hening yang sejak tadi terbangung luntur.

Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku

Banyak kata
Yang tak mampu kuungkapkan
Kepada dirimu

Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Sepanjang hidupku

Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku

   Jia terhanyut dalam alunan musik yang dinyanyikan, sesekali mulut perempuan itu  ikut bergerak walau tanpa mengeluarkan suara.

Madu (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang