dari kaca jendela rumahmu yang berdebu, ada pantulanku setiap hari lewat di situ
bertanya-tanya kapan kau pulang
bertanya-tanya kapan aku beruntung melihatmu, mengobrol dengamu lagi
meski kita sebenarnya hanya saling melihat
dari kaca jendela rumahmu yang berdebu
ada pantulanku yang setiap hari lewat di situ
menanyakan kabarmu diam-diam
merindu hingga mendenda
: mengapa kau tak kunjung pulang?
dari kaca jendelamu yang berdebu
ada pantulanku yang setiap hari lewat di situ
aku sedang membawa ijazah di tangan waktu itu
hari terakhir dan pertama setelah sekian lama
hari itu, akhirnya kita saling menyebut nama
bertahun-tahun kemudian
bukan pantulanku lagi yang lewat di situ
tapi pantulan ibumu yang memelukmu pulang
dan istrimu
dan anak laki-lakimu
2 September 2017
Bandung, 14:17
YOU ARE READING
Aksara Takdir
PoesiaMenerjemahkan patah hati, kegelisahan, dan ketidakpastian ke dalam puisi.
