aku diam memandangi bulan yang bulat sempurna
dari sebuah lapangan bola
bertanya-tanya dalam hati, mengapa damai ini baru dirasa?
menikmati semua detik ini, sekarangmembasuh muka, membasuh luka dantertawa
musik mengerling matanya di udaradan di bawah purnamakau mengajakku berdansa
nikmat mana yang aku dustakan lagi?udara yang sejuk dan sedikit kering inidisempurnakan dengan dansa pertama kita
YOU ARE READING
Aksara Takdir
PuisiMenerjemahkan patah hati, kegelisahan, dan ketidakpastian ke dalam puisi.
