Mulainya Kisah Mereka

208 60 54
                                        

Cia, Renata, Liona, dan tak lupa Mayang sama-sama terperanjat melihat kelima cowok yang sekarang berjalan mendekat ke arah mereka. Mereka tak hentinya melongo ke arah cowok tersebut. Rasanya ... aneh sih cuman memang terlihat nyata sekarang.

Seketika mereka tersadar dari lamunannya saat salah satu cowok tersebut angkat bicara. "Bantuan apa?"

"Mobil temen gue tiba-tiba mati. Ngga tahu deh kenapa itu. Kira-kira ada yang bisa benerin nggak atau sekedar ngecek ada masalah apa sama mesinnya," ucap Rena yang lagi-lagi bergaya sok manis di depan mereka.

"Anjirr! Liat deh Yang, Rena kalo ngomong sama cowok meni halus pisan euy," ucap Liona berbisik namun terdengar oleh Renata.

"Biarin, lagi masa pubernya dia," balas Mayang cekikikan karena mendapatkan tatapan menusuk dari Rena.

"Ah ngga mau nonton dramanya si Rena, rasanya ada getaran mau muntah."

Salah satu dari mereka maju. "Biar gue aja Gas." Rena yang memang paling dekat jaraknya diantara temannya bisa melihat dengan jelas name tag milik cowok yang turun tangan untuk memeriksa mobil Cia.

Salah satu dari cowok itu pun mengangguk. Renata yang melihat itu lantas melihat juga name tag cowok itu.

"Kenapa lo liatin name tag gue?"

"Lah kagak anjir geer amat dih najis," balas Renata gugup karena tetangkap basah namun dengan cepat ia menetralkan kembali dirinya. Tentunya ia melengos dan tidak berani lagi menatap segerombolan cowok itu.

"Nih selesai," ucap cowok yang bernama Febrio lalu menepuk-nepuk telapak tangannya yang terlihat kotor karena oli.

"Eh kok cepet banget?" tanya Cia terkejut. Mana mungkin cowok itu hanya membutuhkan hitungan detik untuk bisa membetulkan mobil yang mogok.

"Cuman ada kabel yang kendor."

"Eh? Emang iya ya. Makasih udah dibenerin." Cia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu yang memperkenal Resto bakso terlaris di daerah Mampang Prapatan miliknya.

"Disana ada nomor wa gue. Sebagai ucapan terimakasih, gue undang lo sama temen lo buat makan di usaha kecil-kecilan milik gue."

Cia melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah sangat terlambat buat ke sekolah mereka yang berjarak masih cukup jauh dari sini.

"Yuk cepetan masuk mobil. Kita udah telat banget nih," perintah Cia kepada temannya.

Sebelum beranjak pergi Cia berteriak pada mereka. "Sekali lagi makasih yah!"

Mobil kuning itu melaju dengan kecepatan tinggi, khawatir jika mereka tidak diperbolehkan masuk lagi diakibatkan telat. Ini saja sudah pukul 07.56.

Disaat keadaan hening seperti itu Liona angkat bicara. "Kok gue ngerasa aneh yah?"

"Kenapa lo? Muncul lagi alergi lo itu?" tanya Mayang bosan mendengar perihal alergi yang diderita Liona.

"Bukan lah njir," jawab Liona memajukan bibirnya. Kecantikan yang benar-benar natural.

"Mereka kok...."

"Kenapa mereka?"

"Itu loh kok pada pakek kacamata semua sih," jelas Liona tampak kebingungan.

"Jangan bilang nih ya kita semua melongo gara-gara itu," timpal Cia.

"Ngga bisa diem lagi, mau ngakak!" Mayang memukul lengan Liona yang duduk bersebelahan dengannya.

"Sakit pea! Kebiasan banget sih lo ketawa sambil mukul."

"Tapi kok ganteng-ganteng ya huhu." Mayang mengelus-ngelus perutnya yang masih menggelitik mengingat kelima cowok itu.

K/ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang