[BEBAS UNTUK DIBACA - ON GOING]
Sama-sama remaja yang tumbuh dengan adanya pendidikan. Perberdaan tempat untuk menempuh pendidikan bukan halangan bagi mereka untuk tetap saling bercanda ria. Tentunya kesembilan belas remaja tersebut, mulai menampakk...
"Tenyata jadi ganteng susah yah. Dilirik terus, heran gue," desah Ano yang berlagak risih padahal ia sangat suka jika diperhatikan seperti ini.
Para pengunjung lain memang terlihat jelas mencuri-curi pandang ke mereka. Entah itu karena para anak cowok yang rupawan dan hampir berkacamata semua. Atau malah terpesona melihat para cewek yang kini sedang tertawa-tawa tak jelas namun terlihat menggemaskan.
Atau mereka lebih fokus dengan cewek bermasker itu? Viie Rhazha Hutagalunq atau yang sering dipanggil pikacu.
"Syalan kan emang mulutnya dugong," kesal Angga menjauh. Menghindar dari virus Ano.
"Diem, tempat rame ini, Jel," tegur Haris dengan mengunyah permen karet dimulutnya.
"Eh bagi dong buat nyumpelnih mulut."
"Yang dimulut udah yang terakhir. Kalo ada warung gue beli lagi."
"Yah berarti harus nyanyi dong. Mengharap engkau kembali...." lanjutnya tak perduli.
"Yaudah yang dimulut gue yah?"
"Nggak, thanks. Gue diem."
Namun selanjutnya Jeli seolah sengaja menyanyikan kembali lagunya tadi. "Sayang, nganti memutih rambutku."
Haris meraih kedua pipi jeli dengan satu tangannya, membuat Jeli tak bebas bernyanyi dan mulutnya terlihat seperti mulut ikan. "Mphhh," ronta Jeli meminta dilepaskan.
Setelah Haris melepaskan bekapan tangannya dari wajah Jeli, cewek itu semakin menjadi dengan kembali bernyanyi. Namun kali ini, ia berlari menjauh dari rombongan Haris.
"RA BAKAL LUNTUR TRESNOKU...."
Renata melihat Jeli melawati dari arah samping dirinya, dengan buru-buru ia menarik rambut lurus Jeli.
"AW!" teriak Jeli sambil menoleh melihat siapa yang menarik rambutnya.
"Diem apa rambut?" tanya Renata memberi pilihan.
"Ramb-- eh iya iya diem maksudnya," balas Jeli menjerit lebih keras saat Renata kembali menjambaknya.
"Udah kasian kak Jeli, lepas kak Ren," pinta si kecil, Bunbun.
Jeli dengan sayang menggendong Bunbun mencium pipi kanan pipi dan kiri Bunbun. "Haduh berat juga, turun deh."
"Kak Ren, tarik aja lagi rambutnya."
~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mau apa dulu nih yang pertama," tanya Sisil yang menatap banyak wahana di hadapannya.
"Rumah hantu dong," pinta Angga sambil menurunkan Bunbun dari gendongannya. "Lagi kangen sama mbak kunti."