selepas pergimu,
rintik gerimis menjadi suara paling miris
nyaris menyergap tangis
di ruang paling tragis.
aku yang sepi
serasa mati
mengingat dirimu,
yang berlalu tanpa setuju.
selepas pergimu,
hanya mengapa yang ku eja
sampai semesta memberiku tiada
kekasih,
seperti itulah aku
yang rapuh merindumu
dengan butiran peluh tanpa bisa lagi menyentuh ; ragamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NESTAPA DALAM AKSARA
PoetryKalau saja waktu bisa diputar mundur aku ingin berada tepat di mana aku pernah jatuh cinta padamu. Tidak ada yang disesalkan dari kisah yang dipaksa usai, kau tetap abadi mengekal di relung paling dalam. bukan salahmu jika pada akhirnya bukan aku ya...
