05. Somewhere I Can Stay

42.6K 2.2K 36
                                        

Begitu mereka keluar dari kafe, mata Starley langsung tertuju pada motor besar berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari pintu masuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Begitu mereka keluar dari kafe, mata Starley langsung tertuju pada motor besar berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari pintu masuk. Sebuah Harley Davidson, yang tampak begitu familiar.

Luigene melangkah santai ke arah motor itu, lalu mengambil sebuah helm. "Sekarang tidak akan ada yang marah kalau kamu naik ke motorku," ucapnya.

Starley mengangkat alis, setengah tersenyum. "Kamu masih mengendarai motor seperti ini?"

"Ya," jawab Luigene, tanpa menunggu lebih lama langsung memakaikan helmnya di kepala Starley. "Sama seperti dulu, dan aku juga hanya memboncengmu."

Starley nyaris tertawa, tapi memilih diam. Luigene lalu menuntunnya naik, memastikan kakinya aman berpijak sebelum ia sendiri duduk di depan, menyalakan mesin yang langsung mengaum berat.

Getaran motor, aroma kulit jaket Luigene, dan suara knalpot yang khas, semuanya terasa seperti potongan masa lalu. Untuk sesaat, Starley merasa seolah ia kembali ke masa kuliah, duduk di jok belakang motor yang sama, dibonceng Luigene saat pulang. Rasanya seperti kembali menjadi Abbey, bukan Starley Langner, bukan sosok yang hidupnya penuh sorotan. Hanya Abbey, perempuan biasa yang bisa tertawa lepas di jalanan, tanpa harus memikirkan siapa yang melihat.

Starley menepuk bahu Luigene pelan. "Kamu tahu tempat tinggalku sekarang di mana?" tanyanya, setengah berteriak karena suara mesin Harley yang mengaum.

Luigene menoleh sedikit, cukup untuk menangkap ekspresinya. Sudut bibirnya terangkat. "Sejak kapan aku bilang akan mengantarmu pulang?"

"Kalau bukan pulang, lalu ke mana?"

Alih-alih menjawab, Luigene meraih tangan Starley dan menariknya ke pinggangnya. "Pegangan yang benar, nanti kamu bisa jatuh."

Starley terkekeh pelan. "Kamu sengaja kan, supaya aku memelukmu?"

Luigene menoleh sedikit, senyum tipisnya kembali muncul. "Is it that obvious?"

Starley tertawa lagi, kali ini sedikit lebih lepas, meski hanya berlangsung sebentar.

Sejak perceraiannya, Starley tidak pernah benar-benar merasa tenang. Bahkan ketika mengetahui ia hamil, kegelisahan itu tetap menghantui, membuatnya sulit tidur, sulit bernapas lega. Bahkan di kafe tadi, saat menunggu Arlington, rasa gelisah itu masih sama, seperti bayangan yang menempel.

Namun kini, detik ini, di atas motor besar yang melaju menembus angin sore, kegelisahan itu perlahan memudar.

Udara yang menerpa wajahnya dan pemandangan yang berganti cepat di sekitarnya, semuanya membentuk semacam ruang hening di pikirannya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tenang.

Tak ada kekosongan yang mengisi hatinya, sesaat hatinya terasa penuh oleh hal-hal nyaris ia lupakan.

Tanpa sadar, tubuhnya sedikit condong ke depan. Kepalanya bersandar lembut di punggung Luigene, mencari kenyamanan yang selama ini sulit ia temukan. Ada rasa sedih menyelinap di hatinya, sedih karena baru sekarang ia merasakan betapa damainya mengisi kekosongan itu.

REASONSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang