Salah satu hal yang tidak pernah Starley lakukan adalah duduk di pinggir jalan. Ia seorang aktris terkenal, bahkan sebelum menjadi artis pun, ia sudah dikenal sebagai putri konglomerat. Setiap pergerakannya selalu diawasi, setiap langkahnya dipantau kamera dan sorot mata publik.
Namun hari ini, entah bagaimana, Luigene berhasil membuatnya duduk menunggu di pinggir jalan yang sepi, dengan topi yang hampir menutupi wajahnya.
Di tangannya tergenggam selembar kertas hitam putih, hasil USG dari rumah sakit tadi siang. Ah, ya, hari ini Starley melakukan pemeriksaan terhadap kandungannya, ditemani oleh Luigene, pria itu yang memaksa.
Jemarinya perlahan menyusuri garis samar yang membentuk sosok mungil di dalamnya. Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi bibirnya melengkung.
Starley tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini, melihat sebuah kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya, sungguh ia sangat senang dan bingung.
Meski sebagian wajahnya tertutup topi, namun Luigene bisa menangkap senyum itu, dan tanpa sadar tubuhnya seolah mematung untuk sejenak.
Senyum yang begitu sederhana, namun terasa asing di wajah Starley sekarang. Itu bukan senyum kepalsuan, tapi senyum kebahagiaan yang sangat tulus dan sederhana.
Dan ini pertama kalinya Luigene melihatnya lagi setelah sekian lama. Terakhir kali ia mengingat senyum itu adalah ketika mereka masih kuliah, saat dunia Starley belum sepenuhnya dibungkus oleh gemerlap dan tekanan.
Kini, senyum itu kembali muncul, meski hanya karena selembar kertas hitam putih yang menampilkan sosok mungil di dalam rahimnya.
Perempuan itu bahagia.
Luigene bisa melihatnya, Starley bahagia dengan kehamilannya.
Tanpa banyak bicara, Luigene berjalan mendekat dan menjatuhkan jaketnya ke pundak Starley. Gerakannya cepat, hampir terkesan kasar.
"Kau terlihat senang." Suaranya rendah, hampir seperti gumaman. Ia kemudian duduk di samping Starley, menyandarkan sikunya di lutut, seolah ikut ingin tahu apa yang sedang diperhatikan perempuan itu.
Starley menoleh, sembari mengangkat hasil USG itu. "Lihat," ujarnya dengan antusias yang tak bisa ditahan. "Bayinya kecil sekali... tapi kepalanya sudah terlihat jelas Dan tadi, aku dengar detak jantungnya." Matanya berbinar, pipinya memerah meski sebagian tertutup topi.
Luigene melirik foto itu sebentar, lalu lebih lama menatap Starley. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Aku juga dengar," jawabnya singkat. "Tadi aku juga di sana."
Starley kembali menunduk, menatap foto itu dengan senyum yang masih bertahan.
"Kamu yakin bisa melakukannya sendiri?" Matanya tidak lepas dari wajah perempuan itu.
Starley mengangguk mantap. "Aku bisa, aku akan membesarkan anak ini sendiri."
"Kamu punya aku, Abbey. Selama ada aku, kamu tidak akan sendirian, aku akan terus membantumu."
"Get a life, Luigene. Apa kamu selamanya akan mengikuti dan membantuku? You should have your own life."
"You are my life, Abbey. Tidak ada yang aku inginkan di dunia ini selain dirimu. Aku ingin bisa menjadi orang yang kamu andalkan, repotkan, perbudak, apa pun itu, use me."
Jujur saja, Starley hanya bercanda tapi tampaknya respon Luigene tidak sedang bercanda.
Starley tahu, Luigene menyukainya dulu tetapi ia tidak tahu jika pria itu menyukainya sebesar itu.
"Kamu serius ingin direpotkan olehku?" Senyum kecil muncul lagi di wajahnya, kali ini lebih samar, hampir seperti senyum yang ia tahan mati-matian.
"Aku akan lebih khawatir jika kamu tidak merepotkanku."
KAMU SEDANG MEMBACA
REASONS
RomanceBagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian. Setelah resmi bercerai, takdir...
