Starley berdiri di ruang rias, ditemani cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya. Pakaian sederhana yang melekat di tubuhnya bukan miliknya, melainkan kostum syuting yang sudah disiapkan tim wardrobe sejak pagi.
Pakaian dengan potongan klasik itu tampak jauh dari kemewahan yang biasa ia kenakan, menggambarkan karakter yang akan ia mainkan di depan kamera.
Starley menarik napas panjang. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri. Perlahan, tangannya turun, menyentuh perutnya yang masih rata. Belum ada perubahan yang cukup besar, orang lain mungkin tidak akan menyadarinya bahwa ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya.
Jemarinya mengusap lembut perutnya, senyum tipis terbit di bibirnya. Rasa hangat mengalir, campuran antara bahagia sekaligus gugup. Sungguh, hingga ini Starley masih tak menyangka jika dirinya sedang mengandung.
Anaknya, buah hatinya.
Ada rasa hangat yang memenuhi hatinya, membayangkan kehidupan kecil itu. Starley sudah sangat menyayanginya bahkan sebelum bertemu dengannya.
"Ini awal yang baru, bukan hanya untukku tapi juga untukmu," bisiknya sembari mengusap perutnya, "Kita akan bersinar bersama, my little star."
Namun tepat saat itu, pintu ruang rias terbuka, Starley buru-buru menurunkan tangannya. Jantungnya sempat meloncat, tapi lega begitu melihat siapa yang masuk.
"James..." Ia menghela napas, menutup kancing bagian atas bajunya yang tadi sempat terbuka saat ia mengusap perutnya. "Kau hampir saja membuatku mati berdiri."
Asistennya hanya mengangkat alis, lalu mendekat. "Kamu baik-baik saja?" Sorot matanya penuh tanya, tapi suaranya rendah, hati-hati. "Butuh sesuatu? Atau kamu menginginkan sesuatu? Aku takut kamu mual dan tidak nyaman."
Starley terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas. "Sudah jauh lebih baik. Aku tidak lagi mual seperti awal kehamilan, sepertinya aku sudah mulai terbiasa." Jemarinya refleks menyentuh perutnya lagi. "Dia masih sangat kecil."
"Justru itu yang membuatku heran. Kamu yakin kamu hamil?" James menatapnya lama, ragu-ragu. "Usia kandunganmu sudah lima bulan tapi jika orang melihatmu sekarang, tak ada yang akan menduga kamu sedang hamil."
Starley menunduk sebentar lalu terkekeh kecil, mengusap perutnya yang masih rata. "Katanya, kalau janin tahu ibunya ingin menyembunyikan keberadaannya, dia juga akan bersembunyi. Mungkin karena itu perutku kecil."
"Starley," James menunduk, menimbang kata-katanya, lalu melanjutkan dengan nada serius. "Keputusanmu menerima film ini, apakah masuk akal kah? Durasi syutingnya panjang. Saat produksi berakhir, usia kandunganmu sudah delapan bulan. Itu berarti kamu hanya punya sedikit waktu untuk benar-benar beristirahat. Dan bagaimana jika seseorang mulai menyadari kehamilanmu?"
Ada jeda hening beberapa saat. Starley menatap dirinya sendiri di cermin, lalu beralih pada James. "Aku tidak bisa menutupi kehamilan ini selamanya. Cepat atau lambat, orang akan mengetahuinya. Dan saat waktunya tiba, aku sendiri yang akan memberitahu mereka."
"Arlington," lanjut James pelan. "Apapun yang sudah terjadi di antara kalian, bayi ini tetap darah dagingnya juga. Lebih baik dia mendengar kabar itu darimu, bukan dari orang lain atau lebih buruk, dari media."
Starley terdiam lama, matanya kembali jatuh pada pantulan dirinya di cermin. "Aku tahu." Ia hanya menghela napas panjang dan tanpa mengatakan apa pun, Starley segera beranjak ke luar menuju lokasi syuting.
Sebelumnya Starley memang ingin memberitahu Arlington tentang kehamilannya. Namun kini, mungkin terdengar egois, tapi jauh di lubuk hatinya, ia tidak ingin memberi tahu pria itu bahwa ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam dirinya, buah hati mereka. Rasanya ia ingin menyimpan anak itu untuk dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
REASONS
Storie d'amoreBagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian. Setelah resmi bercerai, takdir...
