Bagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian.
Setelah resmi bercerai, takdir...
"It was reasons that broke us, and it was also reasons that led us back."
Reasons
***
Tidak seorang pun berani melawan Arlington dan dalam hitungan jam, laporan medis milik Starley Langner sudah ada di tangannya. Arlington membuka lembar itu dengan napas tercekik, siap menghadapi hal terburuk.
Namun pandangannya terhenti di satu baris tulisan. Jemarinya membeku, matanya berulang kali membaca kalimat yang sama, seolah tidak percaya.
Starley sedang hamil, perempuan itu tengah mengandung. Dan usia kandungannya 22 minggu.
Saat mengetahui fakta itu, Arlington terkejut bukan main. Rasanya seperti sebuah palu besar menghantam kepala dan dadanya, ia benar-benar dibuat terkejut.
Starley tak kunjung sadar dan Arlington tidak bisa bertanya. Ia hanya terdiam di samping ranjang, dengan kertas laporan medis yang masih tergenggam di tangannya.
Jemarinya kini bergetar, bukan karena takut atau enggan, tapi karena dadanya terasa penuh. Untuk sesaat ia baru bisa mencernanya, mungkin jika hari ini Arlington tidak mengetahuinya, perempuan itu akan menutupinya dari Arlington, mungkin untuk selamanya.
22 minggu.
Artinya lima bulan, dan saat itu mereka masih terikat sebagai suami istri. Entah percobaan mana yang berhasil, tetapi anak itu adalah anaknya, miliknya.
Bagaimana mungkin aku tidak tahu?
Bagaimana mungkin aku tidak melihat tanda-tandanya?
Tatapannya jatuh pada tubuh Starley yang terbaring lemah, wajahnya pucat, napasnya teratur namun berat.
Arlington merasa sangat bersalah, ia merasa gagal. Starley benar, ia suami dan mantan suami yang buruk.
Lihatlah? Tubuh mantan istrinya itu masih seperti dulu, kecil dan terlihat rapuh. Bagaimana tubuh sekecil itu menyimpan kehidupan? Dan Arlington sama sekali tidak ada di sisinya ketika Starley melewati setengah kehamilannya.
Sungguh keras kepala, mengapa menutupi ini dari Arlington? Apa yang ada dipikiran perempuan ini?
Arlington menutup mata sejenak, keningnya berkerut. Tangan besarnya mengepal, menahan gejolak yang nyaris pecah.
"Lima bulan..." Ia berbisik pelan, hampir tak terdengar. Jika hari ini saja Starley pingsan karena kehamilannya, lalu selama ini apa saja yang perempuan itu tanggung sendirian?
Seharusnya Arlington ada di sisinya, seharusnya ia menjaganya dan menemaninya, bukan mempersulit perempuan itu dengan rasa cemburunya.
Pandangan Arlington kembali pada wajah Starley dan kali ini, bukan hanya keterkejutan yang membanjiri hatinya, tapi juga rasa bersalah yang menggigitnya tanpa ampun.
Terkutuklah Arlington. Ia memang suami dan mantan suami yang buruk, Starley benar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.