07. Now He Knows

37.4K 2K 66
                                        

Arlington mendorong tubuh Starley hingga punggungnya membentur tembok. Napasnya berat, tatapannya penuh gairah yang sudah ia tahan sejak mereka meninggalkan acara tadi malam. Jemarinya mencengkeram pinggang Starley, menariknya lebih dekat, tak memberi ruang sedikit pun untuk kabur.

Sejak acara berlangsung, Arlington tak mampu mengalihkan pandangannya dari Starley, istrinya yang malam itu tampak nyaris tak nyata. Sama seperti orang lain, ia juga terpaku, namun bedanya, pandangan Arlington bukan sekadar kagum, melainkan terjerat sepenuhnya.

Gaun satin berwarna hitam itu membingkai tubuhnya dengan sempurna, mengikuti setiap lekuknya tanpa berlebihan. Beberapa helai rambutnya jatuh membingkai wajah Starley yang mampu membuat Arlington terbakar setiap kali melihatnya.

Tatapan mata Starley, Arlington selalu menganggapnya berbahaya karena perempuan itu selalu berhasil menyadarkan Arlington betapa dalamnya ia jatuh pada Starley.

Sungguh, Arlington tak bisa berpaling. Ia hanya ingin menghabiskan hidupnya bersama Starley. Bahkan di tengah keramaian, Starley adalah satu-satunya yang Arlington lihat.

Starley Langner, perempuan itu sempurna. Dan Arlington rela hancur hanya untuk tetap berada di sisinya.

"My Star," bisik Arlington, tepat di hadapan bibir Starley yang sudah kacau olehnya. Lipstik merah yang tadi sempurna kini berantakan, sebagian berpindah ke bibir Arlington. "I don't like sharing my wife with the world, Starley. Mereka melihat dan mendambakanmu, sama seperti aku yang menginginkanmu."

Publik boleh mengelukan, memuja, dan menginginkan Starley. Namun pada akhirnya, hanya Arlington yang benar-benar memilikinya, hanya ia yang bisa menyentuhnya.

Starley adalah miliknya, hanya miliknya.

Starley tertawa pelan, jemarinya terangkat membelai rahang Arlington, garis tegas itu selalu menjadi favoritnya. Ia mencondongkan tubuh sedikit, lalu mengecup bibir suaminya singkat. "This might be the longest sentence I've ever heard from you," ia berbisik dengan senyum nakal. Matanya berkilat, seolah menikmati setiap detik sosok Arlington yang seperti ini. "I like seeing you jealous like this."

Alis Arlington terangkat, "You like watching me lose control over you, don't you?"

Arlington bukan tipe pria pencemburu. Selama setahun menikah, Starley jarang bahkan hampir tak pernah melihat suaminya itu cemburu. Mungkin itu sebabnya ia begitu senang ketika melihat Arlington tak mampu menahan diri malam ini.

Starley ingat jelas, bahkan sebelum mereka sampai di rumah, Arlington sudah tampak gelisah di acara penghargaan tadi, pandangan mata pria itu tak pernah lepas darinya. Dan begitu acara berakhir, ia langsung menyeret Starley, membawanya menjauh dari sorot mata orang lain, hanya untuk mendekapnya, hanya untuk Arlington.

Starley menunduk sedikit, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Kamu satu-satunya suami yang aku miliki, dan satu-satunya yang akan selalu kupilih. Aku hanya mencintaimu, Arlington."

Kalimat itu bagai sebuah janji yang menenangkan bara cemburu di mata Arlington.

Seketika Arlington menunduk, mencium dan melumat bibir istrinya dengan kasar dan tergesa. Punggung Starley kembali membentur tembok ketika jemari Arlington menelusuri pinggangnya, menariknya makin dekat.

Penampilan Starley yang semula sangat anggun dan rapi seketika berubah, semua berantakan. Pria itu memang selalu pandai menghancurkan Starley.

Napas mereka bercampur, di sela ciuman, Starley terkekeh kecil. Tawa kecil yang mampu membuat Arlington berhenti sejenak, menatapnya dengan alis terangkat.

REASONSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang