Bagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian.
Setelah resmi bercerai, takdir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah mengetahui pasti bahwa dirinya tengah hamil, Starley sempat ragu dan bingung. Tepatnya ia tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Arlington tentang kehamilannya. Rasanya terdengar konyol dan cukup sulit untuk dijelaskan. Namun pada akhirnya, ia memutuskan untuk memberitahu Arlington, bagaimanapun pria itu adalah ayahnya.
Dan di sinilah Starley sekarang, duduk di sudut sebuah kafe yang sudah lama menjadi langganannya. Dulu, tempat ini adalah saksi bisu dirinya dan Arlington saat masih berkencan. Pemiliknya mengenal Starley dengan baik, dan lebih penting mereka sangat menjaga privasi Starley.
Itulah sebabnya Starley kembali memilih kafe ini untuk bertemu dengan Arlington. Entah mengapa, ia ingin mengenang sedikit cerita lama mereka. Bukan karena berharap mereka bisa kembali bersama—tidak.
Tetapi Starley ingin merasakan lagi perasaan yang pernah membuat hatinya hangat. Setidaknya, saat berbicara dengan Arlington nanti, suasana harus hatinya tetap baik.
Namun menit demi menit berlalu. Sudah dua puluh menit ia menunggu, hanya ditemani denting sendok di gelasnya. Setiap kali pintu kafe terbuka, kepalanya refleks menoleh, berharap sosok Arlington muncul.
Tepat saat itu, ponselnya bergetar, ia langsung meraihnya, mungkin Arlington sudah di tiba, pikirnya.
Tapi pesan singkat yang masuk justru membuat harapannya runtuh seketika.
Ada urusan mendadak. Kita tunda dulu, maaf.
Hanya itu.
Starley menatap layar ponsel beberapa detik sebelum kembali meletakkannya. Sebuah senyum tipis terbit di bibirnya, senyum kekecewaan.
Apa yang ia harapkan?
Bahwa Arlington akan datang tepat waktu? Bahwa kali ini, pria itu akan mengutamakan dirinya? Tidak.
Arlington akan selalu menjadi Arlington.
Pria yang tampak sempurna di mata dunia, suami idaman setiap perempuan, juga tampan, cerdas, dan sukses. Tapi di balik itu semua, menikah dengannya justru membuat Starley semakin sepi, seakan dirinya perlahan menghilang di tengah bayangan besar miliknya.
Starley ingat bagaimana semua orang mengagumi mereka sebagai pasangan sempurna, tapi hanya Starley yang tahu sebesar apa kekosongan yang Arlington beri selama mereka menikah, nyatanya pria itu tidak peduli padanya.
Pernikahan mereka hancur bukan karena perselingkuhan atau kebohongan tetapi karena ketidakhadiran pria itu.
Yang Starley butuhkan hanya satu, perhatian Arlington. Tapi bahkan hal iti terlalu sulit bagi seorang Arlington Wang.
Saat Starley masih larut dalam pikirannya, sebuah suara berat tiba-tiba memecah lamunannya.
"Abbey?"
Satu kata itu cukup untuk membuat jantungnya berdegup lebih kencang seolah tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya sendiri.