06. The Accident

37.9K 2.1K 53
                                        

Arlington menutup laptopnya, menatap tumpukan dokumen yang belum disentuh. Seharusnya ia menghabiskan sore ini dengan rapat dan pertemuan bisnis yang sudah dijadwalkan berbulan-bulan lalu. Tapi hari ini ia langsung membatalkan semua agendanya tepat setelah Starley, mantan istrinya, meminta untuk bertemu.

Ia jarang menunda pekerjaannya, apalagi di tengah tekanan bisnis sebesar ini, tapi untuk Starley, ia bersedia menunda semua pekerjaan itu.

Arlington bahkan tidak tahu apa yang akan dibicarakan perempuan itu, namun ada rasa antusias yang bergejolak, memaksanya ingin segera sampai dan melihatnya.

Mereka memang sudah bercerai, tapi sejak awal Arlington tak pernah benar-benar berhenti mencintainya. Bahkan ketika bibirnya dengan tegas mengatakan tak mau berteman dengan mantan istri, tubuhnya tetap bodoh, menuruti suara hatinya.

Beginilah seorang pria ketika telah jatuh cinta. Mereka mungkin diciptakan sebagai makhluk terkuat di bumi, terbiasa mengandalkan logika dalam setiap langkah, terbiasa memegang kendali penuh atas diri dan dunianya. Namun saat benar-benar jatuh cinta, semua logika itu runtuh. Mereka akan jatuh, sejatuh-jatuhnya.

Nyatanya, ketika hati mereka sudah terikat pada cinta, pria cenderung menjadi lebih lemah dibandingkan perempuan. Karena mereka akan melakukan apa pun, bahkan hal-hal di luar nalar, demi mempertahankan cinta itu.

Itulah sebabnya banyak pria enggan jatuh cinta sepenuhnya. Mereka menahannya dengan logika, membatasi diri agar tidak tenggelam sepenuhnya. Karena sekali hati itu jatuh, maka tidak ada jalan untuk kembali.

Arlington memacu mobilnya di jalan berkelok, pikirannya penuh oleh satu tujuan, menemui Starley

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Arlington memacu mobilnya di jalan berkelok, pikirannya penuh oleh satu tujuan, menemui Starley. Suara deru mesin menjadi satu-satunya irama yang mengiringi. Namun tepat saat di tikungan tajam, sebuah mobil dari arah berlawanan, melesat tak terkendali ke arah mobil Arlington.

Refleks, kakinya menghantam pedal rem, sementara kedua tangannya membanting setir ke kiri. Ban berdecit nyaring, aroma karet terbakar memenuhi mobil, namun dalam sepersekian detik, benturan keras mengguncang tubuhnya, suara hantaman memekakkan telinga, bersamaan dengan separuh sisi mobilnya yang hancur.

Dalam kekacauan itu, detak jantungnya menghentak telinga, dan satu-satunya yang terlintas di kepalanya hanyalah nama Starley. Ia harus menemui Starley. Segalanya terjadi terlalu cepat, rasa panas mulai menusuk di pelipisnya. Lalu dalam sekejap semuanya menjadi gelap.

Ketika Arlington kembali sadar, ia sudah berada di rumah sakit dengan kepala yang terasa berat, perih, dan terbungkus oleh perban. Setiap kali mencoba bergerak, nyeri menusuk dari bahu hingga leher.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan ingatan akan apa yang telah terjadi. Lalu teringatlah Arlington pada satu hal, Starley.

Jam di dinding sudah lewat jauh dari waktu yang mereka sepakati. Saat itu Arlington tidak bergegas menemui Starley melainkan langsung membatalkan janji mereka dengan mengatakan bahwa ia memiliki urusan mendadak.

REASONSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang