12. Just Two of Us

32.8K 1.6K 42
                                        

Cahaya pagi menyusup pelan membuat Starley menggeliat kecil di atas ranjang, tubuhnya terasa berat, seakan seluruh sendi menolak untuk digerakkan. Ia mengerang lirih, merasakan sakit di setiap inci tubuh bahkan kulitnya terasa nyeri setelah apa yang terjadi semalam.

Starley tidak ingat sudah berapa kali dan berapa lama mereka melakukannya semalam. Yang ia tahu, Arlington selalu menuntut lebih. Mulai dari ranjang, sudut ruangan, sofa, walk in closet, bahkan hingga kamar mandi mereka menjadi saksi kegiatan panas mereka.

Sungguh, Arlington memang... mengerikan.

Starley perlahan bangkit, tubuhnya telanjang di balik selimut yang tak mampu menutupi semuanya. Rambutnya yang tampak berantakan tak mampu menutupi kulitnya yang sudah dipenuhi oleh hickey.

Ia duduk bersandar, menarik napas panjang lalu menatap sekeliling kamar yang kacau. Pemandangan itu membuatnya bergidik ngeri, nyaris tak percaya, seakan badai telah melanda kamar itu kemarin malam.

Starley meremas ujung selimut, mencoba menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Ada lelah yang tak bisa disangkal, tapi juga ada getir yang perlahan muncul ketika ia menoleh ke sisi ranjang dan tak mendapati siapa pun di sisinya. Hanya lipatan kain kusut dan sisa hangat samar yang tertinggal di sisinya.

Matanya kemudian menangkap sesuatu di atas meja kecil di sisi ranjang, sebuah kartu berwarna hitam, diletakkan rapi di atas amplop putih gading dengan segel emas.

Dengan rasa penasaran yang bercampur ragu, Starley meraih keduanya. Sebuah American Express Centurion Card, kartu hitam yang hanya dimiliki segelintir orang di dunia, terkenal dengan akses tanpa batas, tak ada limit belanja. Arlington bahkan menuliskan inisial kecil di sudutnya.

S.L.W.

Starley membuka amplop. Tulisan tangan Arlington yang khas segera menyapa matanya.

For my wife, my favorite Star,

Kartu ini khusus aku buka untukmu. Gunakan untuk membeli apa pun yang kamu inginkan. Anggap saja ini cara sederhanaku mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan.

Happy wedding anniversary, my Star.
Love, Arlington, your hubby.

Jantung Starley berdegup pelan saat membaca kata-kata itu. Bukan hadiah mewah itu yang membuat Starley tersipu senang melainkan selembar surat dengan tulisan tangan Arlington yang membuat hatinya menghangat.

Starley tidak butuh kemewahan, benda seperti american express, ia sudah memilikinya. Yang ia perlukan hanyalah sedikit rasa cinta, sebuah surat sederhana, sudah cukup untuk membuat senyum merekah pada wajahnya.

Ia menghela napas, lalu kembali menatap kamar yang berantakan sekali lagi. Pandangannya kemudian jatuh pada jam di dinding kamar, menunjukan pukul satu siang.

Sekali lagi, pukul satu siang.

Starley sontak terbelalak. "Astaga!" desisnya. Ia langsung meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, bergegas turun dari ranjang meski lututnya masih goyah, setiap langkah membuat rasa sakit itu semakin terasa.

Gila bukan? Ini sudah dua tahun mereka menikah tapi setiap kali mereka selesai bercinta, terkadang rasanya masih menyakitkan.

Wajar saja, terkadang Arlington buas seperti babi liar.

Tanpa pikir panjang, ia masuk ke kamar mandi, membiarkan air mengguyur wajahnya yang masih terasa berat.

Tangannya meraba kulitnya sendiri dan seketika ia kembali tercekat menyadari tanda kemerahan yang Arlington buat pada sekujur tubuhnya, baik itu di bahu, leher, bahkan di bagian dadanya, jejaknya sangat banyak dan jelas.

REASONSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang