03. A Part of You

63.8K 2.8K 81
                                        

Aroma antiseptik menusuk indra penciumannya saat Starley membuka mata untuk pertama kalinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aroma antiseptik menusuk indra penciumannya saat Starley membuka mata untuk pertama kalinya. Dunia di sekitarnya buram oleh cahaya putih, membuatnya mengerjap pelan. Seketika pandangannya tertuju pada karangan puluhan bunga yang memenuhi sudut kamar rumah sakit, seolah ia sudah meninggal. Dan Starley yakin jika masih ada banyak bunga lainnya memenuhi koridor rumah sakit.

Ini bukan pertama kalinya.

Starley menghela napas kecil, lalu matanya melirik selang infus yang menusuk kulit tangannya, juga tabung oksigen kecil yang tersambung ke hidung.

"Astaga Starley!" Sebuah kursi di samping tempat tidurnya langsung bergeser. James, dengan wajah kusut dan mata sembab, berdiri begitu cepat hingga hampir kehilangan keseimbangan. "Akhirnya kamu sadar..."

James.

Tentu saja.

Pria itu adalah salah satu dari segelintir orang yang benar-benar mengkhawatirkannya dengan tulus. Bukan hal yang mengejutkan jika wajah James adalah hal pertama yang ia lihat saat membuka mata.

Pria itu selalu ada untuknya. James adalah asisten pribadi sekaligus manajernya, pria itu telah bekerja bersamanya sejak lama. James selalu mengurus segala keperluan Starley, dan selalu memperlakukannya seperti saudara sendiri.

James menemaninya sejak pertama kali Starley masuk ke dunia penuh kepalsuan ini, sejak kontrak pertamanya gagal dan masih banyak orang yang belum mengenalnya. Hingga kini, pria itu selalu setia, berdiri seperti perisai hidup untuk Starley.

Bisa Starley lihat, mata sembab pria itu menatapnya penuh kekhawatiran yang tulus. "Aku sudah menangani semuanya," James berkata sambil menelan ludah. Suaranya sedikit bergetar. "Para media tidak akan bisa masuk ke rumah sakit. Tapi berita buruknya, fotomu saat pingsan telah tersebar luas dan menjadi trending. Aku minta maaf soal itu, kami tidak bisa mencegah tangan-tangan sialan itu."

Starley masih diam, seakan tak peduli dengan semua kehebohan itu. Lagi pula, ini lah konsekuensi dari ketenaran yang ia dapatkan, setiap langkahnya akan menjadi sorotan, setiap gerak-geriknya akan disulap menjadi konsumsi publik. Tidak ada ruang untuk salah, apalagi untuk menjadi manusia biasa. Starley selalu dituntut untuk menjadi sempurna.

Sungguh, melelahkan.

Ketimbang semua itu, ia lebih tertarik pada jarum infus yang menancap di tangan, dan selang oksigen yang mengait lembut di hidungnya.

"Kenapa aku sampai diinfus?" tanyanya pelan, seolah tengah berbicara pada dirinya sendiri. "Bukankah aku hanya pingsan?"

"Kamu tahu berapa lama kamu pingsan?" James menghela napas panjang, "Empat jam, kamu sudah tidak sadarkan diri selama empat jam."

Starley menutup matanya sebentar, mencerna ucapan James. Empat jam? Itu bukan waktu yang sebentar. Pantas saja James terlihat sangat khawatir.

"Orang tuamu sudah menghubungiku sejak tadi. Mereka sedang dalam penerbangan ke sini dari London."

REASONSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang