Setiap orang bermimpi untuk menjadi bintang, meraih bintang, menjadikannya milik sendiri, padahal tak banyak yang benar-benar mengerti apa itu bintang.
Bintang bukan sekadar cahaya indah di langit malam, melainkan luka yang membakar dirinya sendiri agar bisa bersinar. Bintang memang tercipta untuk menerangi dan memberi arah, untuk dipandang dan dikagumi dari kejauhan, bukan untuk digenggam.
Sebab ketika kau memaksa meraihnya, kau akan sadar, bahwa bintang tak pernah ditakdirkan berada dalam genggaman siapa pun. Tempatnya memang di atas sana, abadi, dan tetap bersinar, meski tak pernah bisa kau miliki.
Reasons
***
Sejak skandal terakhir yang menyeret namanya bersama Luigene, Starley memilih menarik diri. Ia menolak bertemu dengan keduanya meski telepon dan pesan masuk tanpa henti.
Baginya, setiap pertemuan hanya akan membuka celah baru untuk rumor baru yang membuat kepalanya semakin penuh.
Ia ingin menutup pintu rapat-rapat, setidaknya sementara, dan kembali pada hal yang ia sukai, bekerja. Hari-hari berikutnya, Starley kembali ke set syuting untuk memulai pengambilan film barunya. Segala rutinitas yang berkaitan dengan pekerjaan memberinya rasa nyaman.
Tapi hari ini, tubuhnya memberi tanda lain. Saat syuting selesai, wajahnya tampak sangat pucat, keringat dingin juga mulai membasahi pelipisnya.
Menyadari tubuhnya yang tak baik, membuat Starley segera berjalan ke ruang ganti, sembari terus meyakinkan dirinya bahwa ini hanya lelah biasa.
Begitu duduk, Starley segera melepaskan perhiasan dan mencoba membuka sepatunya. Rasa nyeri di perutnya membuatnya meringis, saat ia berusaha untuk membungkuk, mencoba menarik resleting kecil sepatu hak tingginya.
Tepat saat itu pintu ruang ganti diketuk pelan, belum sempat Starley menjawab, Emanuel sudah lebih dulu masuk. Pria berambut pirang itu adalah lawan mainnya, sang aktor pendatang baru yang secara konsisten terus mengaku sebagai penggemar berat Starley Langner.
Pria itu tampaknya menyadari kesulitan yang Starley hadapi, dan tanpa berpikir panjang ia berlutut di hadapan Starley, tangannya dengan cekatan membantu melepas sepatu.
Starley terkejut, hampir ingin menolak. Tapi gerakannya terhenti ketika Emanuel mendongak, tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara yang tenang namun tulus. "You did a great job today, Starley. Semua orang bisa pulang lebih cepat karena kamu."
Untuk sesaat Starley terdiam, menatap pria itu yang masih berlutut di depannya. Sebelum refleks menarik kakinya, berusaha menahan rasa sungkan yang mendadak menyeruak.
"Emanuel..." ia menunduk, suaranya pelan namun tegas. "Kamu tidak perlu melakukan itu."
Pria itu tidak beranjak.
"Aku ingin melakukannya, aku ingin membantu. Kamu sudah bekerja keras sekali hari ini."
Starley buru-buru memalingkan wajah. Ia tahu jika sedikit saja perhatian lebih yang Starley beri bisa menjadi kesalahpahaman bagi Emanuel, parahnya mungkin bisa menjadi bahan gosip tak berujung.
Starley tidak ingin ada skandal baru yang menempel pada namanya. Ia ingin hidup dengan tenang.
Emanuel mendadak terdiam, menatap Starley lekat. "Wajahmu pucat sekali," ia bangkit, berusaha mendekat untuk memastikan. "Kamu sakit?"
Starley menggeleng cepat, meski tangannya terasa dingin. "Tidak, aku baik-baik saja. Hanya butuh istirahat."
Starley tidak baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
REASONS
RomanceBagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian. Setelah resmi bercerai, takdir...
