Sejak proyek filmnya dihentikan secara tiba-tiba, Starley melewati beberapa hari yang berat. Kesedihan sempat menghantuinya, menekan kepercayaan diri yang selalu menghiasi dirinya. Tentu saja ada rasa kecewa yang begitu mendalam, bagaimanapun ia hanya seorang manusia.
Tapi lambat laun, ia mulai menerima keputusan itu. Mungkin proyek itu memang bukan takdirnya, atau mungkin itu jalan yang terbaik untuk dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
James benar, cepat atau lambat orang akan mengetahui tentang kehamilannya yang sudah menginjak enam bulan. Sulit membayangkan dirinya tetap berdiri di depan kamera dengan perut yang semakin membesar, dengan energi yang kian menurun. Proses syuting tidak akan lagi berjalan mulus, dan pada akhirnya, ia pasti akan dipaksa memilih antara karier atau keselamatan dirinya dan bayi itu.
Jadi mungkin, memang ini jalan terbaik. Produksi yang berhenti mendadak justru menyelamatkannya dari pilihan yang bisa melukai banyak pihak.
Meski masih ada perasaan kehilangan, Starley mencoba berdamai dengan keadaan.
Ia mulai menikmati harinya dengan cara yang sederhana, bangun tanpa harus mengejar jadwal padat, membuat teh hangat sembari membaca buku. Ada ketenangan baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun di balik ketenangan itu, ada juga rasa sepi yang tidak bisa ia pungkiri. Terkadang tanpa sadar ia melirik unit Arlington yang sunyi. Tidak ada tanda-tanda pria itu kembali. Tidak ada suara pintu terbuka, tidak ada langkah berat di lorong, seolah pria itu tak berada di sana.
Apa dia sudah pergi?
Secepat itu Arlington menyerah?
Sejak ketegangan terakhir mereka, pria itu tidak pernah terlihat lagi atau berusaha menemuinya. Seperti biasa, pria itu selalu menghilang.
Huh.
Apa yang Starley harapkan dari seorang Arlington?
Tapi biarlah begitu, bukankah ini yang Starley inginkan? Lepas dari bayang-bayang pria itu.
Awalnya Starley tak berniat untuk memikirkan Arlington, hanya saja saat itu Starley ingin makan sesuatu dan entah mengapa ia teringat pada Arlington.
Apa Starley berharap pria itu akan membelinya untuk Starley? Sungguh konyol, pria itu bahkan tak repot melakukannya saat mereka masih menikah.
Menepis pemikirannya, Starley mengambil jaket tipis dan melirik bayangannya di kaca pintu. Ia tersenyum tipis pada diri sendiri, menyakinkan dirinya.
Aku bisa pergi sendiri.
Ini hanya sebentar.
Malam itu Starley tiba-tiba ingin sesuatu yang manis. Selama ini ia berusaha menjaga pola makan, tapi entah mengapa ada dorongan kuat untuk keluar sebentar, membeli makanan manis, mungkin ia akan pergi ke dekat condominiumnya.
Namun begitu ia turun, koridor terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu di langit-langit memang menyala, tapi entah mengapa Starley merasa sedikit takut.
Langkahnya bergema, terdengar sangat jelas.
Starley merapatkan jaket ke tubuhnya, ada perasaan samar yang memggelayut, sebuah sensasi seperti tengah diawasi.
Ia berhenti sejenak, menoleh cepat.
Koridor kosong.
Hanya ada dirinya, dan bayangan tubuhnya.
Tidak ada siapa-siapa, namun entah mengapa jantungnya justru berdebar makin kencang.
Starley tak pernah setakut ini, apa lagi di kedimannya sendiri. Tapi hari ini, rasanya aneh, seperti seseorang tengah mengawasinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REASONS
RomanceBagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian. Setelah resmi bercerai, takdir...
