19. Two Hundred Million

31.6K 1.7K 43
                                        

Cinta seharusnya memberi ketenangan, rasa aman, dan kebahagiaan sederhana. Tapi mengapa ketika bersamamu, yang kurasakan justru sebaliknya? Ada luka, juga resah, ketika mencintaimu. Aku seperti kehilangan arah.

Jika cinta seharusnya menghibur, mengapa hatiku terus terasa perih? Aku mulai bertanya-tanya, apakah ini benar cinta, atau hanya keterikatan yang membuatku buta?

Reasons

***

"Kamu ingat, Arlington? Hari itu, ketika aku mengalami kecelakaan setelah mencarimu, kamu bahkan tidak bertanya bagaimana keadaanku atau menjengukku di rumah sakit. Where the fuck were you?"

Kalimat itu, kembali menghantui Starley. Menariknya kembali pada ingatan menyakitkan, memasuki tahun ketiga pernikahan mereka.

Malam itu hujan deras, jalanan licin, dan dirinya mengemudi dengan panik setelah mendapat kabar samar tentang Arlington. Ia tak peduli pada teriakan James yang memintanya untuk menunggu. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanya menemukan pria itu, memohon agar pertengkaran terakhir mereka tidak berakhir seperti ini.

Namun takdir justru menamparnya keras. Mobilnya tergelincir di tikungan, menghantam pembatas jalan hingga dunia gelap dalam sekejap.

Ketika ia sadar, bau obat rumah sakit langsung menusuk hidung, cahaya putih menyilaukan, dan rasa perih menjalar di kepalanya yang diperban.

Starley ingat betul bagaimana James berdiri di sisi ranjang, berusaha menenangkan dirinya. "Aku sudah memberitahu Graham. Dia bilang Arlington sedang ada urusan mendadak. Dia... tidak bisa datang."

Dan benar saja, yang muncul hanyalah sebuah buket bunga dengan kartu kecil bertuliskan nama Arlington, sebuah formalitas dingin yang dikirim lewat tangan orang lain.

Tidak ada wajah yang ia rindukan.

Tidak ada genggaman tangan yang ia butuhkan.

Bagi Starley, saat itu terasa seperti pengkhianatan yang lebih kejam daripada perselingkuhan. Luka di kepalanya bisa dijahit, tapi luka di hatinya? Tidak ada obatnya.

Ia mencoba menenangkan diri, meyakinkan bahwa mungkin Arlington masih marah, mungkin ia benar-benar sibuk dengan pekerjaan mendesak.

Namun jauh di dalam dirinya, sebuah bisikan kecil menolak untuk diam, jika pria itu sungguh mencintainya, bukankah ia akan tetap datang? Sejak hari itu, rasa percaya di hati Starley mulai runtuh, sedikit demi sedikit.

Dan nyatanya, luka itu tak pernah benar-benar hilang.

Starley masih mengingatnya, mengingat setiap kejadian dengan sangat baik.

Starley masih mengingatnya, mengingat setiap kejadian dengan sangat baik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Studio itu terasa hampa. Lampu-lampu sorot yang biasanya menyala terang kini dipadamkan, hanya menyisakan cahaya temaram yang jatuh di atas set yang belum selesai dibangun. Kru mulai berkemas dengan wajah murung, beberapa aktor berdiri berkelompok, berbisik-bisik bingung.

REASONSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang