Bagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian.
Setelah resmi bercerai, takdir...
Selama bertahun-tahun lamanya, Starley selalu menjadi pusat perhatian dan ia tidak pernah mempermasalahkan itu. Namun kini berbeda, ia tidak merasa sangat tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian karena pertemuannya kembali dengan mantan suaminya, di hadapan begitu banyak mata yang haus akan drama.
Arlington, pria itu memanggilnya dengan senyum di wajahnya, pria itu juga melangkah mendekat, menatapnya penuh cinta dan rasa bangga.
Untuk sesaat, Starley lupa bahwa mereka telah bercerai.
"My Star." Panggilan itu meluncur dari bibir Arlington, seketika mendobrak pertahanan terakhir Starley.
Ya, anggap saja Starley terlalu mudah untuk diluluhkan. Sejak awal, Arlington memang tak perlu berusaha karena Starley akan terus memilihnya.
Starley mencintainya, dan masih sangat mencintainya.
"Dia benar-benar datang?" bisik para tamu, tak percaya dengan kehadiran Arlington di sana. "Arlington, jarang hadir di depan umum, malam ini justru datang untuk menyapa mantan istrinya?"
Ya, Arlington memang cukup tertutup. Meski hidupnya selalu menjadi sasaran sorot publik tetapi pria itu selalu berusaha menghindar dari sorot kamera.
Bagi Arlington, hidupnya bukan konsumsi publik. Dan hal itu sangat bertentangan dengan Starley yang selalu menjadi pusat perhatian publik.
Starley merasakan napasnya tercekat. Dunia di sekitarnya seakan berputar lebih cepat, tapi di antara mereka waktu justru berhenti.
Starley tak bisa berpaling dari tatapan itu, bahkan tubuhnya menolak. Ia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa pria yang berdiri hanya beberapa langkah darinya adalah seseorang yang pernah ia cintai lebih dari hidupnya sendiri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama, Arlington membawa Starley ke salah satu ruangan di sayap istana, pria itu meminta waktunya untuk berbicara.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Starley menegakkan tubuhnya, berusaha menutupi kegugupannya.
"Rasanya aneh, berdiri di sini," Arlington tersenyum seperti orang bodoh yang tak bisa menyembunyikan perasaannya. "Menatapmu lagi, setelah semua yang sudah terjadi."
"Aku pikir kamu tidak suka menjadi pusat perhatian."
"Memang." Entah mengapa, ruangan itu terasa semakin kecil, semakin sesak, setiap kali Arlington mendekat. "Tapi itu bayaran untuk bertemu denganmu, my Star."
"Jangan panggil aku begitu."
"My Star?" ulang Arlington dengan sengaja. "Forever, you will always be my Star."
Starley mematung, jelas ia tidak suka.
Tidak.
Bukan kepada Arlington, melainkan kepada dirinya, kepada panggilan itu yang mampu membuatnya menangis hanya dengan mendengarnya.