Bagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian.
Setelah resmi bercerai, takdir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
London, tengah malam.
Langit kota terlihat seperti kanvas kelabu tua yang dicuci hujan. Setiap tetes yang jatuh seolah menemani Starley yang tengah mematung di balik jendela penthouse, menunggu suaminya pulang.
Dari luar, Starley Langner tampak sempurna, ia seorang bintang besar, wajahnya ada di mana-mana, segala yang ia kenakan atau sentuh akan menjadi tren, dan semua orang memperhatikannya.
Tapi di balik semua itu, ada kekosongan yang tak bisa diisi dengan tepuk tangan atau sorakan penggemar. Kesepian itu terasa begitu nyata seperti membungkus tubuhnya erat, membuatnya sulit untuk bernapas. Bahkan suara hujan yang deras pun tak bisa mengalihkan rasa sepi di dalam hatinya.
Ia punya segalanya, kemewahan, ketenaran, nama besar tapi tetap merasa kosong seakan tak ada satu pun yang benar-benar bisa membuatnya hidup.
Saking sunyinya malam itu, Starley bahkan bisa mendengar suara derap langkah kaki di lorong. Derap yang berat, pelan, dak tak asing baginya. Suara langkah kaki itu selalu ia tunggu setiap malam, selama tiga tahun mereka menikah.
Suaminya telah kembali.
Setiap langkah itu selalu membawa Starley kembali ke malam pernikahan mereka, pada malam di mana ia menjadi seorang istri, menikahi pria yang dicintainya sepenuh hati.
Saat itu, dunia terasa bregitu hangat dan kesepian belum menggerogoti hatinya. Saat itu, ia masih percaya bahwa cinta adalah segalanya.
"Kamu minum?" Suara berat memecah lamunan Starley, suara yang indah, seindah nama pria itu, Arlington. Dan seperti sebuah kebiasaan, setiap kali mendengar suara itu, ia selalu menoleh dengan senyum terindahnya.
Starley menatap susminya dari ujung kepala hingga kaki, tidak ada yang salah. Arlington berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengenakan setelan jas andalannya.
Tiga kancingnya terbuka, menyisakan bayangan samar di dada bidangnya. Dasi yang semestinya sudah dilepas malah tergantung malas di leher, tak menunjukkan sedikit pun niat untuk dilepas. Rambutnya agak berantakan, tapi tatapannya tetap sama, selalu sama seperti tiga tahun yang lalu.
Tidak ada yang salah.
Semua masih sama, seperti tiga tahun yang lalu. Lalu di mana letak salahnya? Sungguh, ia tidak tahu.
"Hanya mencoba menghangatkan diri, sembari menunggu suamiku pulang." Starley berdiri di tepi jendela, menyambut Arlington dengan senyum tercantiknya. Gaun hitam berpotongan rendah yang memeluk tubuhnya. Bahunya terbuka, kulitnya seputih porselen, rambutnya disanggul separuh namun sebagian menjuntai.
Selama tiga tahun, begitulah cara Starley menunggu suaminya pulang. Dengan pakaian terbaiknya, senyum cantik, dan parfum favorit suaminya yang selalu ia semprotkan sebelum berdiri di tepi jendela. Ia tak pernah membiarkan dirinya terlihat berantakan, bahkan saat hatinya sedang hancur.