Setiap tokoh adalah milik diri mereka sendiri. Nama tokoh, kesamaan tempat dan peristiwa dipakai hanya untuk kepentingan cerita.
Enjoy the story!
***
Selamat pagi. Aku Kim Wooseok. Usiaku dua puluh tahun.
Wooseok mematut diri di depan cermin, merapikan rambut hitamnya dengan menggunakan sedikit gel, meremasnya agar tetap terlihat alami, memperlihatkan sebagian dahinya.
Perfect.
Dengan percaya diri, ia mengambil varsity jacket yang tersampir di kursi, juga backpack yang ada di atas meja belajarnya, membawa keduanya ke atas kitchen island.
“Jangan ditaruh di situ dong, Seok. Tas kamu udah dari mana-mana tuh.”
Wooseok menuruti perintah. Ia memindahkan tas tersebut ke lantai, lalu berjalan ke arah belakang tubuh seorang pria yang lebih tua darinya, memeluk pinggang rampingnya, menaruh pipinya di punggung pria setinggi 180 cm tersebut.
“Good morning, Pa. Masih pagi jangan ngomel aja. Nanti Papa hipertensi, lho.”
“Kamu doain Papa?” Pria yang dipanggil Papa berbalik, menyentil kening sang anak. Sakitnya bukan main.
“PA! MERAH LHO INI!” Wooseok mengusap-ngusap dahinya sambil menggerutu. Tiba-tiba mulutnya yang mengerucut ditutup dengan jari.
“Jangan ngedumel. Masih pagi. Udah, duduk sana. Sorry, Papa cuma bikin french toast. Ada meeting dadakan.”
“Pake cinnamon n sugar kan?”
“Iya pake. Orange juice mau?”
“Americano aja ah.”
“Sok banget anak muda jaman sekarang pagi-pagi udah ngopi.”
“Please ya Bapak... Yang cekokin saya dari kecil pake kopi item, katanya biar nggak kejang, tuh Anda ya.”
“Ya ya ya... Tapi kamu mah aneh. Minum kopi pahit doyan, giliran dikasih obat langsung kabur.”
“Mesti banget nyamain kopi sama obat? Gak apple to apple gitu. Jelas yang satu nikmat, yang satu pahitnya udah kayak hidup tanpa cinta.”
“Mau jadi pujangga, Dek?”
“Jadi penulis lirik lagu aja lah. Siapa tau ada grup idol yang mau pake.”
“Ngimpi?”
“Well everything starts from a dream anyway. Someone taught me that.”
“Pinter banget tuh yang ngomong gitu. Siapa tuh?”
“Namanya Hero Kim. Mantan model yang sekarang jadi designer itu lho.”
“Ganteng pasti!”
“Kata orang sih cantik.”
“Heh! Papa tuh ganteng, tau!”
“Bapak, saya lagi ngomongin Hero Kim lho ini. Bukan Kim Jaejoong.”
“Sama aja, Bocah!”
Wooseok tertawa, merasakan tangan yang telah membesarkannya seorang diri mengusak rambutnya.
Sambil menggigit potongan terakhir french toast-nya dan meneguk americano yang tersisa dalam gelas, Wooseok berdiri.
“Udah ah, aku pergi duluan ya, Pa,” Wooseok mengecup pipi pria tersebut.
“Hari ini latihan lagi?”
“Iya.”
“Belom bosen main hoki?”
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
FanfictionKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
