Suara dari Kacey Musgraves mengalun indah menyanyikan lagu Slow Burn di dalam mobil Wooseok malam itu. Seungwoo menatap keluar jendela sebelum memejamkan matanya, menyesapi makna lagu tersebut.
I'm alright with a slow burn
Taking my time, let the world turn
I'm gonna do it my way, it'll be alright
If we burn it down and it takes all night
It's a slow burn, yeah
Ia membuka mata, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Wooseok yang sedang serius mengendarai mobilnya. Pemuda yang belum lama dikenalnya tersebut mempunyai paras yang tampan sekaligus cantik. Tulang rahangnya terpahat indah, dengan bola mata bulat bagai mata rusa. Tak heran, mengingat wajah androgini seorang Kim Jaejoong, ayah Wooseok, yang sempat ia temui juga. Yang ia pertanyakan adalah mengapa sosok ini begitu terasa istimewa sejak pertama kali mereka bertemu. Seungwoo dikelilingi banyak manusia berwajah rupawan dalam hidupnya. Kakak-kakaknya sebagai contoh. Atau para figure skater yang ia kenal. Mereka semua cantik atau tampan, atau keduanya, seperti halnya Wooseok dan ayahnya. Namun tak ada yang meninggalkan rasa layaknya Wooseok.
"Ngapain liatin gue begitu?"
Seungwoo berjengit, kaget karena seperti ketahuan melakukan sesuatu yang tak pantas. Namun tak butuh waktu lama baginya untuk mengembalikan komposur dirinya seperti semula.
"Siapa yang liatin lo?"
"Ya elo lah."
"Tau dari mana? Kan elo lagi nyetir."
"Berasa!"
"Sok tau! Tapi emang bener gue liatin lo sih."
"Tuh kan!"
"Ya gak apa-apa lah... Abisnya lo cantik."
"What the..."
"Gak usah denial lah. Emang cantik kan? Pernah mikir gak sih kenapa rata-rata carrier itu cantik? I mean, there's always something particular, or peculiar, please jangan tersinggung, dari seorang carrier? Apa karena sisi feminin kalian? Bahkan ketika gue tau lo ice hockey player, yang jelas-jelas butuh strength, yang gue yakin ngebentuk semua otot lo, lo tetep aja keliatan cantik di mata gue. There's softness in every facial expression you make, in every movement you do."
Wooseok hanya terdiam. Tak bermaksud untuk menjawab maupun membantah. Memang begitu adanya. Dia sendiri melihatnya dalam sosok ayahnya, maupun pada dirinya sendiri ketika bercermin. Juga pada diri Yein, sang sahabat.
"Honestly, gue belom pernah tertarik sama carrier sebelomnya, Seok."
Wooseok menengok ke sisi kanan, tempat Seungwoo duduk di kursi penumpang, menatap tak percaya sambil berdecak. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada jalan.
"Bohong banget."
"Serius."
"Not gonna lie, gue pernah deket sama beberapa cewek, baik temen sekolah maupun sesama figure skater. But never a carrier. Gak membatasi diri, hanya emang nggak pernah ada carrier yang bisa bikin gue tertarik sebelumnya. Not before you."
"Don't worry, Seok. Gue tetep hargai kok keputusan lo. Mungkin ini biar gue juga bisa lebih memahami apa yang sebenernya gue rasain ke elo. Gue cuma ngasih tau aja. Just for you know."
"Should I feel special then?"
"Hahahaha it's up to you. Lo sendiri gimana? Oh shit, gue gak pernah nanya ini. Tapi, lo gak lagi punya pacar kan Seok??? Gila, gue bego amat gak mikirin ini sebelomnya," Seungwoo mengusap kasar mukanya.
"Santai, Woo. Nope, gue gak lagi in relationship. I guess... Not anymore..."
Ada sendu di sana. Seungwoo bisa mendengarnya. Dari jeda yang diambil, dari nafas tertahan, dari hati yang tercekat saat mendengar tawa miris yang keluar dari bibir mungil Wooseok.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
FanfictionKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
