Chapter 17

347 35 45
                                        



Juli 2018

“Whoaaa pasangan baru kita dateng juga akhirnya,” sambut seorang pemuda saat Wooseok melangkahkan kaki masuk ke dalam suatu apartemen studio milik teman kuliah Kogyeol sore itu. Kogyeol membalas gurauan temannya dengan tinju kecil di bahu, sedangkan Wooseok hanya tersenyum singkat. Ini pertama kalinya ia ikut berkumpul dengan teman-teman Kogyeol, dan ia sedikit malu saat mereka menggoda status baru yang tersemat pada keduanya. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama. Jinhoo dan Kuhn, kedua teman kuliah sekaligus teman satu tim ice hockey di Yonsei, sangat menyenangkan.

Tiga hari lalu, Wooseok menjawab pernyataan cinta sang kekasih. Finally. Karena Kogyeol sebelumnya sudah dua kali mengajak Wooseok untuk berpacaran, namun dua kali itu juga Wooseok menolak. Bukan karena tak suka atau tak sayang, tapi karena hubungan mereka terlanjur nyaman sehingga Wooseok ragu untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Alasan klasik, tapi sering terjadi. Hubungan Wooseok dan Kogyeol selama kurang lebih setahun setengah belakangan memang berkembang pesat. Dari yang awalnya hanya sekadar kenal di atas ice rink, sampai mulai sering menghabiskan akhir pekan bersama. Bertambah intens saat Wooseok memutuskan untuk bergabung dengan tim hoki es sekolah, dengan ijin Jaejoong tentunya. Kogyeol, yang pada bulan Maret tahun kemarin berhasil masuk ke universitas impiannya, tetap meluangkan waktu untuk menjadi asisten pelatih di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa baru, dan berhasil mengajak Wooseok untuk ikut tim. Seperti dugaannya semula, Wooseok sangat berbakat.

“Jadi gimana, Bro? Status akhirnya gak jomblo lagi nih…” ucap seseorang dengan tubuh yang cukup tinggi, memakai baju putih tanpa lengan dengan motif warna-warni. Kuhn, namanya, seingat Wooseok.

“Ah, dia sih status doang yang berubah. Kan dari kemaren-kemaren juga udah kayak orang pacaran,” timpal pemuda berkemeja biru dengan kancing yang terbuka, bernama Jinhoo.

“Sok tau!” elak Kogyeol. Wajahnya sedikit bersemu malu.

“Siapa coba yang sering nolak kalo diajak ngumpul? Pake alesan mau jemput Wooseok lah, mau nemenin Wooseok lah, mau latihan off ice sama Wooseok lah…”

“Rese lo!”

Wooseok tertawa ringan. Ia menatap Kogyeol yang juga kini sedang melihat ke arahnya. Apa Wooseok pernah bilang betapa ia sangat menyukai mata Kogyeol? Biarkan Wooseok mengatakannya lagi. Dan lagi. Mata Kogyeol sangat indah, dan bertambah indah saat memandangnya penuh kekaguman seperti ini. Wooseok suka. Ia merasa dipuja.

Satu buah bantal terlempar mengenai wajah Kogyeol. Ia mengalihkan pandangannya dari Wooseok pada Jinhoo yang sedang menampilkan cengiran lebar.

“Biasa aja ngeliatin Wooseoknya. Gak bakalan kemana-mana tuh anak,” ejek Kuhn.

Kali ini Wooseok terbahak.

“Kok kamu malah ketawain aku sih? Mereka ngejek kita berdua lho,” protes Kogyeol.

Wooseok mengendikkan bahu, “Aku nggak ngerasa diejek. Emang bener kok Kak Kuhn sama Kak Jinhoo. Kamu kan kalo liatin aku suka lebay.”

“Laper dia, Seok,” ujar Jinhoo.

“Laper mau makan pacar,” timpal Kuhn.

Bantal yang tadi kali ini mendarat di muka Kuhn. Kogyeol juga menendang kaki Jinhoo. Pekikan kesakitan, yang pastinya pura-pura, keluar dari mulut kedua temannya.

“Wooseok pacarnya barbar,” adu Jinhoo.

“Gak apa-apa, Kak. Yang penting gue sayang.”

“Huwooooo!!! Cieeee Kogyeol!”

DANCING ON ICETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang