I will fill my mind with you and only you until there won't be any room for anyone else.
"Shin..."
"Hmm?"
"Istirahat. Jangan sampe sakit."
"Hmm... Thanks, Wei."
Wooseok berjalan gontai memasuki lobby apartemen. Jinhyuk membawa mobil miliknya setelah ia tadi menolak untuk diajak pulang dan meminta Jinhyuk membawanya keliling Seoul untuk melepas penat. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit namun sepertinya Wooseok benar-benar butuh tidur cepat.
"Aku pulang."
Wooseok melangkahkan kaki ke arah ruang makan. Ada harum masakan yang menandakan ayahnya telah pulang.
"Hey, Boy. Pas banget pulangnya. Ayo makan. Papa udah masak curry rice nih. Mandi dulu gih sana," ayahnya terus berceloteh begitu mengetahui Wooseok telah sampai di rumah.
Wooseok melihat ayahnya yang sibuk mondar-mandir menyiapkan makan malam untuk mereka. Ia berjalan mendekat lalu memeluk pinggang ayahnya dari belakang. Erat.
Jaejoong berhenti menuang beef curry ke atas piring, dan menaruh panci di atas kitchen island. Ia menyentuh tangan Wooseok dengan lembut.
Dua puluh tahun, ia menjadi ayah sekaligus ibu bagi putranya. Ia sadar dirinya tak sempurna, tapi ia belajar untuk memenuhi segala kebutuhan Wooseok, termasuk pada saat-saat seperti ini.
"Kenapa?"
Gelengan ia rasakan pada punggungnya. Bohong, tentu saja. Jaejoong berbalik, kemudian menangkup pipi Wooseok.
"Ada apa?" tanyanya sedikit khawatir.
"Mom. I need my mom now."
Mata Wooseok terlihat kalut. Ia tahu. Ia bisa melihatnya dengan jelas. Mata yang biasanya terlihat berbinar penuh semangat, mata yang bulat seperti rusa, yang membuatnya jatuh cinta di hari ia melahirkan putranya tersebut.
"Mandi dulu, terus kita makan. We'll talk after that. Okay?" ucap Jaejoong selembut mungkin, lega karena kali ini ia mendapat sebuah anggukan.
Putranya yang baik. Putranya yang penurut. Jaejoong ganti memeluk Wooseok erat.
"Ayo, sana. Mommy's here, Baby Boy."
***
Saat Wooseok kecil lahir, dunia Jaejoong seperti memiliki warna kembali. Layaknya tangan seorang anak yang menggambar di atas kertas, satu demi satu, krayon warna-warni ia coretkan. Ia melukis pelangi. Dari warna yang berjarak karena goresan yang tak sempurna, sampai bergradasi dengan indahnya. Oleh tangannya, ditemani oleh tangan kecil Wooseok. Berdua.
Dulu Wooseok selalu memanggilnya Mama. Tak salah, karena Wooseok memang lahir dari rahimnya yang istimewa. Ia pun tak pernah mempermasalahkan sebutan apa yang Wooseok sematkan. Senyamannya Wooseok. Jadi ketika Wooseok akhirnya memilih untuk memanggilnya Papa, pun Jaejoong terima. Semakin Wooseok besar, ia juga menyadari bahwa Wooseok lebih membutuhkan figur kuat yang bisa melindunginya, menjaganya, mendampinginya dengan penuh canda.
Enam bulan lalu adalah kali pertama Wooseok meminta kehadirannya sebagai seorang ibu setelah sekian lama. Batin Jaejoong menjerit. Saat ia memilih pergi dari seseorang, ia pikir hidupnya sudah sulit. Namun di usia yang lebih muda darinya dulu, anaknya, putranya, bayinya, ditinggalkan. Wooseok tidak memilih hal tersebut. Tapi semuanya direnggut paksa dari kehidupan Wooseok. Pertama kali jatuh cinta, pertama kali juga cinta sang putra kandas. Jaejoong berharap Wooseok tidak seperti dirinya, yang tak mampu untuk mencari cinta baru bahkan setelah masuk sepuluh tahun yang kedua.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
FanfictionKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
