Jaejoong menaruh segelas caffe latte hangat di hadapan Sunhwa, sedangkan di tangannya terdapat segelas americano.
"Kamu beneran nggak mau minum apa gitu?"
"Nggak, Om. Makasih," tolak Seungwoo halus.
"Atau makan? Biar sekalian temenin Wooseok tuh. Dari tadi makan nggak abis-abis."
"Nggak usah, Om. Beneran. Tadi udah makan."
Jaejoong mengambil duduk di sebelah anaknya.
"Tadi ijin ada urusan, ternyata ke sini ya?"
"Ah iya, Sir. Tadi tau-tau adik saya telepon, bilang jatuh di kamar mandi, padahal baru cedera."
"Papa kenal sama kakaknya Seungwoo?"
"Iya. Ms. Sunhwa ini yang pegang design interior-nya Cojjee yang di Gangnam, Seok. Papa mau Ms. Sunhwa yang pegang lagi buat Cojjee yang bakal buka di Mapo itu."
"Oooh..."
"Papa sendiri nggak tau kamu temenan sama adiknya Ms. Sunhwa. Papa kan kenal semua temen kamu."
"Ng... Itu..."
"Kami belum lama kenal, Om. Wooseok yang nolongin saya waktu kaki saya cedera."
"Oh, Wooseok ini yang kamu ceritain, Woo?"
"Iya, Kak."
"Seungwoo kuliah di Yonsei juga?"
"Nggak, Om. Saya di Korea Univ."
"Wah, pinter dong kamu."
"Ah, nggak gitu juga, Om. Yang kuliah di Yonsei tuh yang pinter-pinter."
"Kalo Wooseok tuh anaknya suka terlalu rajin. Seneng banget kuliah. Heran saya juga. Padahal masa kuliah kan seru kalo ada bolos-bolosnya gitu ya..."
"Dih, Papa malah ngajarin yang gak bener ih."
"Hehehe... Dia nih agak terobsesi gara-gara saya selalu nasehatin dia buat kuliah yang bener biar gak putus kuliah kayak saya dulu. Eh malah bablas."
"Pa, di mana-mana yang namanya bablas tuh ke jalan yang nggak bener. Masa rajin kuliah dibilang bablas."
"Woo, Om kasih tau aja ya, Wooseok tuh anaknya begini. Seneng banget debat. Anaknya sih penurut, tapi kalo nggak debat dulu di depan tuh kayak ada yang kurang. Macam hidup tak lengkap gitu deh."
"Papa apa-apaan sih."
"Hahaha... Kayaknya saya ngerti, Om."
"Anda dekat sekali dengan anak anda ya, Sir?" kakak dari Seungwoo tersenyum melihat hubungan ayah dan anak di depannya. "Saya pernah dengar dari karyawan Cojjee. Maaf, bukan maksud saya bergunjing."
"Hahahaha... Santai aja, Ms. Sunhwa. Gak usah terlalu kaku. Kita juga bukan lagi kerja. Apalagi anak saya ternyata temennya adik Anda. Ya beginilah... Kami cuma berdua. Biar kadang nyebelin, he's my most precious treasure."
Wooseok mencebik. Dia bisa melihat ayahnya baru mengerling pada kakaknya Seungwoo. Tiba-tiba ia bergidik. Ayahnya tak mungkin bermaksud untuk ubah haluan kan?
"Hahaha... Senang saya lihatnya, Sir. Ayah saya orangnya sedikit kaku, hubungan kami dekat tapi tidak sebebas itu juga. Yah, tipe bapak-bapak kolot. Dan Seungwoo ini persis ayah saya."
"Kenapa jadi aku sih, Kak?"
Mereka masih saling mengobrol sampai dua puluh menit kemudian Wooseok menyenderkan kepalanya ke bahu sang ayah.
Jaejoong memegang kening Wooseok lalu meringis. Panas. Bubur yang Wooseok makan sedari tadi pun masih sisa banyak.
"Hey, Baby Boy. Mau pulang sekarang?" tanyanya lembut yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Wooseok.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
FanfictionKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
