Wooseok memperhatikan Jaejoong yang sibuk mengurusinya seharian ini. Menyuapinya makan, membantunya meminum obat, mengelap tubuhnya, membantunya ke kamar mandi, semua yang membuat Wooseok merasa lebih nyaman di tengah sakitnya.
Ia merasa bersalah telah mengangkat topik yang sensitif bagi Jaejoong. Mereka mengalami beberapa fase sulit sampai akhirnya berada pada titik bahwa bagi Wooseok dan Jaejoong, yang penting adalah mereka memiliki satu sama lain.
Hari sudah menuju senja. Suhu tubuh Wooseok sudah turun walau belum normal. Kepalanya juga sudah tak seberat kemarin. Di batas kesadarannya yang belum pulih setelah terbangun dari tidur siangnya, samar-samar ia melihat Jaejoong yang sedang melakukan online meeting di meja kerjanya yang berada di dalam kamar. Wooseok ingat ia memprotes keberadaan meja kerja tersebut karena Wooseok takut Jaejoong akan bekerja sampai larut malam di kamarnya padahal ruang kerja pun sudah disiapkan di ruang terpisah.
Suara yang familiar di telinga Wooseok terdengar dari jauh. Kim Junsu, asisten Jaejoong. Wooseok biasa memanggilnya Jun-chan. Lalu ada satu suara lagi, seorang wanita. Terdengar tak asing juga namun Wooseok belum bisa mengenali siapa pemiliknya.
Tahu-tahu saja Jaejoong telah duduk di ranjang tanpa Wooseok sadari. Ternyata ayahnya telah menyelesaikan meetingnya karena menyadari ia terbangun.
"Masih pusing?"
"Sedikit," jawab Wooseok.
"Cepet sembuh dong. Sedih banget liat kamu begini. Gak ada lawan buat adu mulut."
Wooseok terkekeh. Jaejoong naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Wooseok. Tangannya melingkar di pinggang sang anak.
"Mama beneran sedih kalo kamu sakit. Mendingan kamu bikin mama pusing sama tingkah kamu dari pada liat kamu lemes."
Wooseok tersenyum, kemudian senyumnya perlahan menghilang saat perasaan bersalah kembali menghantamnya.
"Mama..."
"Yes?"
"Maaf..."
"Untuk?"
"Talking about Daddy."
Jaejoong terdiam. Wooseok langsung berpikiran bahwa dia benar-benar berbuat satu kesalahan besar. Dia memang seringkali berdebat dengan Jaejoong. Kadang dalam konteks bercanda, tak jarang karena masing-masing dari mereka tak ada yang mau mengalah dan keras kepala. Tapi satu yang Wooseok tak inginkan, yaitu Jaejoong merasa sedih karena masalah pria yang tak pernah Wooseok ketahui rupanya sampai saat ini. Tanpa sadar air mata Wooseok mengalir perlahan dari sudut matanya.
"Lho, kok nangis? Ada yang sakit?"
Wooseok menggeleng sambil mengusap air matanya. Tubuhnya dipeluk erat oleh Jaejoong.
"Kangen ya?"
"Emang bisa kangen?"
"Hati kamu yang rindu. Mama yang minta maaf kalo gitu... Berarti selama ini Mama belum bisa penuhin segala kebutuhan kamu."
Wooseok menggeleng lagi sampai pusing di kepalanya menyerang kembali.
"Nggak Ma... Nggak gitu..."
"Ssssshh... It's okay... Mama ngerti, Sayang... Wajar kalo kamu ngerasa begitu kok. Mama bener-bener minta maaf karena udah bikin kamu gak bisa kenal sama ayah kamu sendiri. Maaf kalau keputusan Mama egois. Maaf kalau cinta Mama buat Daddy kamu bikin kita dalam kondisi seperti ini. Saat itu, cuma jalan ini yang Mama pikir paling benar. Daddy kamu berharga buat Mama. Semua hal dalam dirinya Mama cintai. Termasuk semua impiannya. Dan Mama merasa keberadaan Mama dan kamu cuma akan membuat Daddy kamu bingung. Mama nggak mau melihat Daddy kamu mengorbankan mimpinya hanya karena kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
FanfictionKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
