"Aaaaargh, sial!"
Wooseok memencet tombol lift dengan tidak sabar. Ia sudah berada di basement saat menyadari bahwa mobilnya masih dibawa oleh Jinhyuk. Ayahnya berangkat ke salah satu kafe miliknya setelah makan siang, sedangkan Wooseok sendiri tertidur lagi sehabis minum obat. Dan sekarang ia telat untuk berangkat latihan di Mokdong Indoor Ice Rink.
Ketika ia sampai di depan apartemen dan menunggu taksi, tidak ada taksi yang lewat, padahal waktu sudah menunjukkan lewat dari jam lima sore dan latihan sudah akan dimulai pada pukul enam. Berpikir cepat, Wooseok memutuskan untuk naik bis berwarna biru No. 100 dari Ichon-dong Hyundai Apt. menuju Hangang Daegyo Bukdan. Tujuh menit, begitu sampai ia langsung berlari menuju halte lainnya untuk berganti bis.
Sambil mengetukkan jemarinya pada lutut, Wooseok melihat ke arah luar jendela. Dua puluh satu menit dalam bis No. 605 terasa lama sekali. Beruntung demamnya sudah turun, walau sepertinya ayahnya benar, ia harus ijin untuk tidak ikut latihan hari ini apabila tidak mau kondisinya bertambah parah. Kalau tidak, ia akan menjilat ludah sendiri atas nasehat yang ia ucapkan pada Seungwoo.
Han Seungwoo. Di antara banyaknya notifikasi dari chat yang dikirimkan secara bertubi oleh Jinhyuk dan Yein, yang baru sempat ia lihat karena ponselnya mati karena sebelumnya lupa ia charge, terselip beberapa baris chat dari Seungwoo yang menanyakan kabarnya. Ia membiarkan chat tersebut tanpa bermaksud untuk membalas. Entah apa yang akan Seungwoo pikirkan tentang dirinya, tapi Wooseok sudah memutuskan untuk mengacuhkan keberadaan Seungwoo. Bayang-bayang Kogyeol masih terlalu kuat dan ia tak sanggup kalau otaknya harus memikirkan keduanya.
Wooseok tertawa dalam hati. Kenapa juga harus memusingkan itu semua?
Hampir saja halte tujuannya terlewat akibat melamun. Turun dari bis, Wooseok masih harus naik bis satu kali lagi selama kurang lebih sepuluh menit. Kali ini ia menyandarkan kepalanya ke jendela sambil mengatur nafas. Begitu sampai di tujuan, Wooseok mulai berlari lagi.
***
Lagi-lagi sial. Pelatih baru tersebut kini memandangnya tajam. Wooseok datang saat latihan sudah berlangsung dan itu jelas memberikan kesan yang buruk. Satu yang harus dipegang seorang atlet selain skill, yaitu disiplin. Demi hoki ia menggembleng dirinya, dan hanya dengan satu kesalahan, pelatih tersebut memperlakukannya seolah ia atlet yang buruk.
"KALIAN DENGAR? SAYA TIDAK MENTOLERIR BENTUK KETIDAKDISIPLINAN SEPERTI INI. DATANG TERLAMBAT BISA BERPENGARUH PADA BANYAK HAL. KONDISI FISIK YANG TIDAK CUKUP SIAP UNTUK MEMULAI LATIHAN, MENGGANGGU KONSENTRASI TIM, MENGGANGGU RITME LATIHAN, JUGA MENURUNKAN SEMANGAT. SIAPA NAMA KAMU?"
"Kim Wooseok."
Wooseok menyebutkan namanya dengan ragu. Aura pria dewasa di hadapannya begitu berbeda dengan dua coach yang biasa melatih mereka. Kuat, dan mendominasi. Tubuh tegapnya yang berdiri sejauh dua meter dari Wooseok seolah menjulang.
"KALIAN DENGAR IA BICARA APA?"
Suara dengungan dari sembilan belas anggota timnya yang kini membentuk barisan mulai terdengar. Wooseok bisa melihat dari ujung matanya, Seungkwan menarik jersey Woozi seakan memberi kode.
"DIAM! KAMU! SIAPA NAMA KAMU?"
"LEE SEOKMIN, COACH!"
"LEE SEOKMIN, KAMU DENGAR SUARA DIA TADI?"
Wooseok tahu Seokmin menatapnya ragu. Ia melengos.
"TIDAK, COACH."
Wooseok berdecih. Seokmin dan kepolosannya. Siapa yang bisa menyalahkan anak itu? Apa jangan-jangan coach tersebut tahu kalau Seokmin tidak akan bisa berbohong? Kalau Jinhyuk yang ditanya, Wooseok yakin Jinhyuk akan menjawab sebaliknya. Yang pastinya akan membuat coach baru tersebut tambah murka dan menghukum mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
FanfictionKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
