"Iya, aku udah hampir selesai. Papa udah sampe mana?"
"Hapjeong. Tunggu ya. Mobil kamu bukannya sama Jinhyuk? Kok tumben malah minta jemput Papa?"
"Kayaknya aku butuh ke dokter. Badan aku tambah nggak enak."
"Makanyaaa... Papa bilang juga apa! Ngeyel sih kamu tuh!"
"Ya udah nggak usah ngomel-ngomel juga. Tambah pusing akunya. Cepetan ya. Jangan lama-lama, Pa."
"Astaga... Ya sabar, Bocah. Udah nyebrang Yanghwa. Kamu nanti nunggu di mana?"
"Lima menit lagi aku keluar biar Papa nggak usah parkir."
"Okay."
Wooseok menutup sambungan teleponnya dengan sang ayah dan bersiap untuk keluar dari ruang ganti. Teman-teman satu timnya terlihat berjalan berkerumun dari arah berlawanan.
"Shin, jadi pulang duluan?" Yein berlari menghampiri.
"Iya. Tadi udah bilang sama Coach Max. Lagian gak penting juga gue latihan hari ini. Hehehe..."
"Gak usah terlalu diambil hati Coach ngomong apa, Shin. Dia belom kenal lo aja," nasehat Jinhyuk yang tiba-tiba sudah berada di samping Yein.
"That's the point, right? Belom tau gue tapi udah bikin prejudice sendiri. Udahlah. Terserah aja dia mau gimana. Toh univ dan tim emang butuh dia, kan? Apalah gue yang cuma pemain amatiran. Gue duluan ya. Wei, jangan lupa anterin Yein pulang."
"Siap!"
"Get well soon, Shin."
"Yo!"
Wooseok mulai berjalan ke arah pintu keluar. Ia menyapa teman-temannya dan mengangguk memberi salam pada Coach Max dan Coach Mickey, dan memilih untuk mengabaikan keberadaan pelatih barunya.
Pukul 20.14 menit, mobil Audi R8 milik sang ayah memasuki parkiran Mokdong Indoor Ice Rink. Wooseok membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.
Jaejoong mengelus kepala sang anak lembut saat melihat air muka Wooseok yang keruh.
"Bete amat mukanya. Pusing banget?"
"Capek aja."
"Kamu tuh kalo ada yang mengganjal hati kamu, atau lagi banyak pikiran, cerita coba. Semalem juga ceritanya gitu doang... Padahal dulu apa-apa kamu ceritain ke Papa. Buku gambar kamu kecoret temen aja kamu kasih tau. Sekarang banyakan diemnya..."
"Ya udah ntar aku cerita. Berangkat dulu ayo, ngapain di parkiran doang gini..."
Tangan Jaejoong menyentuh kening Wooseok sebentar sebelum mulai mengendarai mobilnya kembali.
"Padahal tadi udah turun lho panasnya. Naik lagi kan tuh."
"Pa, please... Jangan mulai marah-marah. Udah capek aku dengerin orang marah hari ini," jawab Wooseok sambil memijat keningnya.
"Emang siapa yang marahin kamu?"
"Ada lah. Males juga aku nyebutnya."
"Ya udah, yang penting tenang dulu. Direbahin aja itu tempat duduknya."
"Hmm..."
Jaejoong mengarahkan mobilnya ke Severance Hospital yang berada di lingkungan Universitas Yonsei. Bukan karena anaknya kuliah di sana, tapi karena rumah sakit tersebut merupakan salah satu rumah sakit terbaik di Seoul. Bahkan untuk penyakit yang ringan sekalipun, Jaejoong hanya memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Jaejoong melirik Wooseok yang sepertinya telah tertidur. Terus terang, semakin Wooseok dewasa, ia semakin tidak mengetahui tentang kehidupan pribadi Wooseok. Dilematis memang. Di satu sisi memang sudah seharusnya demikian. Karena ia 'hanya' sebatas orangtua. Wooseok memang anaknya, tapi kehidupan Wooseok adalah milik Wooseok sendiri. Tidak mungkin ia ikut campur terlalu jauh. Namun, melihat Wooseok berusaha menghadapi masalahnya sendirian terkadang membuat Jaejoong merasa tanpa daya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
FanfictionKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
