Takutkah kau, Sayang? Pada ingatan yang mungkin menghilang? Pada satu waktu di masa depan?
***
"Masih ngambek?"
"AKU NGGAK NGAMBEK!"
"Tapi mukanya ditekuk-tekuk gitu... Awas nanti keriput..."
"Lagian sih..."
"Ya maaf... Maafin aku dong, please... Seokkie..."
Sesosok pemuda berwajah tampan dengan senyum manis sedang merayu untuk meminta maaf. Wooseok memutar bola matanya malas. Sebenarnya ia tidak marah, hanya sedikit kesal karena pemuda tersebut membiarkannya mencari ruang klub hoki es di Student Union Building sendiri. Ralat. Berdua bersama Yein. Padahal Wooseok dan Yein adalah mahasiswa baru, dan kekasihnya adalah mahasiswa tingkat tiga di Yonsei.
Iya, kekasih. Wooseok sudah mempunyai pacar. Mungkin banyak hati akan patah apabila mengetahui salah satu wajah tampan sekaligus cantik di antara para mahasiswa baru Yonsei tersebut sudah diklaim kepemilikannya oleh right winger The Titans yang bernomor punggung sepuluh sejak dua tahun lalu.
Mereka pasti akan lebih patah hati lagi apabila mengetahui bahwa pemuda itulah yang menjadi alasan Wooseok memilih untuk melanjutkan pendidikan di Yonsei, dan yang membuat Wooseok mendalami ice hockey. Bersama-sama berada di atas es, saling membantu untuk memasukkan puck ke gawang, berbagi deru nafas dan keringat. Ice hockey is his lover's passion, dan Wooseok bermaksud untuk terlibat di dalamnya.
"Beliin dakbal!"
"Dakbal lagiiii? Seok, perut kamu sakit nanti. Baru juga kemaren makan."
"Perut aku kuat, nggak usah banyak alesan kamu. Pokoknya beliin."
"Iya iya... Udah, minum dulu dong itu iced americano-nya. Kan tadi kamu yang minta juga."
Wooseok meminum iced americano-nya tanpa banyak bicara lagi.
"Seok..."
"Aku seneng banget akhirnya jadi juga kamu masuk Yonsei. Ikut klub juga."
Wooseok merasakan tangan hangat sang kekasih menggenggam tangannya. Wooseok tersenyum. Hari itu ia bahagia. Sangat. Di sebuah kafe bernama Manufact Coffee Roasters, ditemani iced americano dan iced flat white, Wooseok berharap dapat menjalani masa-masa kuliahnya dengan penuh suka cita.
***
"Shin..."
"Hmm?"
"Lo lagi banyak pikiran ya? Kayaknya seharian ini lo gak fokus banget. Untung kita gak lagi latihan. Bisa kena puck yang melayang ntar."
Wooseok mengangkat kepalanya dari atas meja kafe. Yein benar. Dari semalam pikirannya memang penuh. Hingga pukul tiga pagi ia baru berhasil tertidur sedangkan kuliah dimulai pukul tujuh tiga puluh. Menghasilkan denyutan di kepalanya.
"Pusing gue."
"Pusing ya minum obat lah."
"Udah, tapi nggak ilang."
Segelas iced flat white ditaruh di atas meja. Suara kursi yang ditarik terdengar berderit.
"Kalo kurang tidur tuh ya pulang, istirahat. Bukan malah ngopi begini. Lagian tumben amat pesennya flat white."
Wooseok memutar-mutar gelas dengan kedua tangannya, kemudian mengaduk isinya dengan sedotan sebelum meminumnya.
"Lagi kangen aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
FanficKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
