Wooseok menunggu di dalam mobil BMW X1 miliknya di area parkir bawah tanah Fakultas Teknik Yonsei. Jari tangannya mengetuk-ngetuk kemudi. Ia telah berada di sana sejak setengah jam yang lalu, jauh lebih awal dari pada jadwal latihan off ice yang biasanya dimulai pukul tiga sore di hari Sabtu. Ia hanya absen pada satu sesi latihan namun rasanya seperti tertinggal jauh. Wooseok tidak bodoh, ia tahu pasti mengapa hatinya merasa demikian.
Seungwoo berkata hal itu wajar, karena latihan terakhir yang Wooseok ikuti tidak berakhir dengan baik. Iya, Wooseok sempat menceritakan mengenai kejadian di hari Selasa kemarin saat mereka berbincang di Cojjee Coffee. Seungwoo menyarankan untuk meninjau ulang kejadian tersebut dengan kepala dingin. Oleh Wooseok yang seorang atlet, bukan Wooseok yang sedang banyak pikiran dan dalam kondisi tidak sehat. Dan sejujurnya hal itu amat sangat membantu. Wooseok tidak terbiasa dengan sosok pelatih dengan aura mengintimidasi seperti Jung Yunho. Tentunya ia tidak akan berkata bahwa pelatih-pelatih yang sebelumnya tidak kompeten, namun harus ia akui, Jung Yunho memang berbeda. A winner, indeed. Dan ia kembali menemukan alasan mengapa Kogyeol begitu mengidolakan pria tersebut. Ia pun sangat mengerti mengapa pada hari itu Jung Yunho begitu marah padanya.
Dan kini ia sedang bimbang. Haruskah ia mendatangi ruangan Jung Yunho dan meminta maaf terlebih dahulu sebelum sesi latihan dimulai, ataukah ia lakukan hal tersebut setelah latihan. Ia harus menyelesaikan kesalahpahaman antara dirinya dan pelatihnya tersebut, namun tidak tahu bagaimana sebaiknya. Seungwoo menyuruhnya untuk mengikuti kata hatinya, ketika Wooseok menelepon pemuda tersebut sebelum berangkat tadi. Yang tentunya dibalas dengan protes Wooseok yang beranggapan bahwa saran Seungwoo adalah sesuatu yang percuma.
Total empat puluh menit, waktu yang Wooseok butuhkan sampai akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung 304.
***
Kadang apa yang direncanakan belum tentu sejalan dengan kenyataan. Sudah bimbang sedemikian rupa, dengan tekad bulat bermaksud untuk mendatangi sang pelatih di ruangannya sebelum latihan, Wooseok malah tidak menemukan satu orang pun dalam ruangan. Rasanya Wooseok ingin mengumpat, namun ia tahan. Bukan saatnya membuat masalah baru. Antara kesal, tapi juga lega. Berarti memang ia harus melakukannya setelah latihan nanti.
"Eh, Kak Shin! Gimana kabarnya? Udah sehat beneran? Jangan dipaksa kalo emang belum sembuh lho, Kak!" mulut Seungkwan menyerocos tanpa henti, padahal Wooseok baru menginjakkan kaki di ruang klub.
"Udah kok, Kwan. Tenang aja."
"Abisnya Kak Shin gak nongol-nongol di grup, padahal kita rame banget di sana. Makanya kita pikir Kak Shin pasti sakit parah. Mau nengokkin tapi belom pada sempet. Maaf ya, Kak."
"Hahaha gak apa-apa kok, Kwan. Gak parah juga. Cuma emang minimalisir pake hp biar gak tambah pusing aja. Lagian kemaren gue udah masuk kuliah kok. Kitanya aja yang gak ketemu." Wooseok membuka loker untuk menaruh barang-barangnya di sana.
"Hmmm, iya juga ya. Kok tumben udah dateng, Kak? Baru jam setengah tiga lho ini. Yang lain belom ada yang nongol. Kak Woozi aja belom."
"Kamu sendiri kok udah di sini?"
"Ih Si Kakak mah ditanya malah nanya balik. Aku tadi abis dari perpus nyari bahan buat tugas, sengaja dipas-pasin waktunya, ternyata selesai lebih cepet."
"Tandanya kamu pinter."
"Tandanya bahannya gak ketemu semua, Kak. Hehehe..."
"Hahahaha dasar! Eh, Kwan..."
"Iya, Kak?"
"Gimana yang lain dilatih sama Coach U-Know?"
"Ah... Bagus sih menurut aku. Coach U-Know kan tegas orangnya. Terstruktur banget pula. Beliau bisa tepat sasaran sih menurut aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
DANCING ON ICE
Hayran KurguKim Wooseok alias Wooshin adalah center kebanggaan tim ice hockey kampus. Dibesarkan seorang diri oleh ayahnya, Wooseok hidup dengan beberapa mimpi. Menang dengan gemilang pada pertandingan ice hockey salah satunya. Yang ia tidak sangka, adalah bahw...
