Chapter 4

418 65 88
                                        

Berlari membantuku menjernihkan pikiran. Dari rutinitas yang membosankan, atau dari rindu yang tak kunjung padam.

Wooseok memakai sepasang sepatu Nike Air Zoom Pegasus 36-nya yang berwarna merah. Kalenji running belt berisi ponsel, identitas pribadi, uang secukupnya, kunci, energy gel, sport spray dan sebotol kecil air ia eratkan di pinggang. Wooseok meringis. Yein selalu mempertanyakan mengapa ia memilih untuk memadatkan tas kecilnya dengan banyak barang dibanding membawa tas yang lebih besar.

Dari ruang keluarga, ia beranjak menuju kamar tidur yang paling besar dalam apartemen.

"Pa, yakin nggak mau ikutan?" Wooseok melongok sekali lagi ke dalam kamar ayahnya. Ayahnya masih terlihat berbaring telungkup di atas tempat tidur.

"Nggak deh, Seok. Papa capek banget semingguan ini. Sekarang mau puas-puasin tidur."

"Ya udah, aku berangkat ya."

"Kamu janjian sama Jinhyuk?"

"Nggak, dia sibuk pacaran."

"Kasian amat yang ditinggal pacaran. Ya udah, Papa doain kamu ketemu jodoh nanti."

"Dih apaan sih... Aku berangkaaaat!"

"Iya, hati-hati."

Hari Minggu sore itu, cuaca sangat cerah bahkan ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Wooseok berjalan santai dari apartemennya menuju Yongsan Family Park. Jarak sejauh 1,2 km itu ditempuh dalam waktu 15 menit.

Memasuki kawasan taman, Wooseok mulai berlari sepanjang jalan setapak. Beberapa orang Wooseok temui sedang melakukan hal yang sama. Berada di tengah-tengah kota Seoul dengan jalan setapak, area hijau yang luas, serta kolam yang menambah kesegaran, Yongsan Family Park menjadi pilihan banyak orang untuk jogging.

Wooseok sedang berlari di sepanjang kolam, sudah cukup jauh dari pintu masuk taman saat ia melihat pelari lain di depannya limbung. Wooseok segera bergegas menghampiri. Refleks, ia menahan tubuh pemuda tersebut.

"Hei! Kenapa?"

Hanya suara ringisan dan desisan kecil yang Wooseok dengar dari bibir pemuda tersebut. Melihat pemuda tersebut tidak dapat berdiri dengan benar, Wooseok berinisiatif memapahnya ke bangku terdekat.

Setelah berhasil mencapai bangku dan membantu pemuda tersebut untuk duduk, Wooseok segera berjongkok, bermaksud untuk melihat kondisi kaki lelaki tersebut. Sebagai seorang olahragawan, Wooseok tahu ada yang tidak beres dengan kakinya. Mungkin terkilir.

"Aku coba buka sepatunya, okay?" tanya Wooseok sambil mendongak. Namun alisnya bertaut. Wajah yang baru sekali ia temui namun beberapa kali melintas di dalam pikirannya beberapa hari terakhir sekarang persis di depan matanya.

"Lo...?"

"Ah, ice hockey boy," jawab pemuda tersebut pelan, sambil tersenyum di antara rasa sakit dan keringat dingin.

***

"Kaki lo kayaknya parah. Baiknya sih dicek ke rumah sakit aja," ujar Wooseok setelah melihat kondisi kaki pemuda di hadapannya. Wooseok sempat menyemprotkan sport spray yang ia bawa. Kali ini ia bersyukur, tas kecilnya yang penuh menjadi bermanfaat. Tapi kaki tersebut penuh lebam biru keunguan, dan sedikit bengkak. Dan di sana, Wooseok bahkan melihat ada semacam luka, seperti bekas operasi.

Pemuda tersebut hanya bergumam. Entah mengapa membuat Wooseok sedikit merasa kesal.

"Lo udah tau kan kalo kaki lo lagi sakit? Nggak mungkin sakitnya baru kalo sampe kayak begitu," suara Wooseok mulai menajam, dan dijawab tanpa suara oleh pemuda itu.

DANCING ON ICETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang