Chapter 16

278 41 36
                                        

Januari 2016

Sudah empat hari lamanya Wooseok hanya berdiam diri di kamar, keluar hanya untuk makan dan ke kamar mandi. Ia bahkan hanya berbicara seperlunya pada Jaejoong. Kepalanya terlalu penuh dengan hantaman kenyataan. Ia perlu waktu untuk mencerna semuanya, meresapi setiap alasan yang dikemukakan ayahnya tersebut. Ia sungguh berusaha memahami setiap keputusan yang diambil oleh Jaejoong, namun tetap saja dadanya terasa sesak. Selama empat hari itu juga, saat malam semakin larut, tanpa ia sadari airmatanya mengalir perlahan. Tak jarang pula tangisannya menjadi raungan tertahan. Wooseok berusaha mengeluarkan segala keresahan hatinya, tapi ia masih tahu diri untuk tidak membangunkan ayahnya, yang ia yakin sama kalutnya, saat tengah malam, meski ia sangat ingin berteriak dengan sekuat tenaga. Ia membenamkan wajahnya dalam bantal, menangis sampai lelah dan akhirnya tertidur dengan jejak airmata pada dini hari.

Pada hari kelima, logikanya mulai bekerja sama. Menangis tidak akan mengembalikan apapun yang hilang. Atau yang tak pernah ada sejak semula. Ketika ayahnya pamit untuk bekerja, tak lama kemudian Wooseok pun pergi meninggalkan apartemen yang terasa terlalu menghimpit jiwa. Ia tak punya tujuan pasti, sehingga ia akhirnya hanya mengikuti kemana kakinya melangkah.

Lucu. Wooseok melihat tulisan yang terpampang di atas pintu pada gedung yang ada di hadapannya kini. Lucu, bagaimana ia berusaha menghindar namun justru berakhir di sini. Lucu, bagaimana selama empat hari lalu ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti, namun ternyata hatinya mengkhianati. Iya, hidup ini terasa lucu bagi Wooseok kini saat ia menyadari bahwa bahkan tanpa arah tujuan, jiwanya membawa raganya ke sebuah arena es.

Wooseok hampir saja meragu, tapi selanjutnya memantapkan hati untuk masuk. Mungkin dinginnya es dapat menjernihkan pikirannya yang kusut, pikirnya. Ia mengambil duduk di bangku paling belakang tribun. Sepi. Wooseok memejamkan mata, sebelum terpaksa terbuka saat suara-suara teriakan serta gesekan antara es dan pisau pada sepatu skating memasuki indera pendengarannya kurang lebih lima belas menit kemudian. Di sana, di atas es, Kogyeol dan teman-teman satu klubnya, berlari dengan kecepatan tinggi, saling memperebutkan puck dan berusaha memasukkannya ke dalam gawang. Suara tubuh yang saling bertabrakan, puck yang melayang di udara, pukulan stik yang apik, sorak-sorai tim saat menang, nyatanya bagai musik di telinga Wooseok. Dadanya masih terasa sesak, hatinya masih sakit, namun sebuat senyum kecil hadir di sudut bibir.

***

“Wooseok?”

Satu sosok dengan senyum cerah di hari yang dingin itu kini berdiri di hadapannya. Wooseok memicingkan mata, silau akan sinar lampu yang berada di belakang pemuda tersebut.

“Wooseok?” panggil pemuda itu lagi, kali ini dengan raut yang tanpa sungkan menunjukkan kekhawatiran saat Wooseok tak juga menjawab pertanyaannya.

“Oh. Hai,” jawab Wooseok singkat.

“Hai?” tanyanya heran. “Are you okay?”

“Hah? Gue okay, kok. Kenapa?” elak Wooseok.

Pemuda itu sedikit kesulitan saat berusaha duduk di bangku sebelah Wooseok karena ransel yang dibawanya cukup besar, dan nampak berat karena beberapa kali tergelincir dari pundak kanannya. Jangan lupa dengan tongkat sepanjang hampir satu meter yang berada dalam genggaman.

“Nevermind,” jawab pemuda tersebut saat akhirnya berhasil mendudukkan dirinya di bangku. “Anyway, kaget liat lo di sini. Sendirian pula. Atau lo emang nyari gue?”

“Geer! Cuma lagi gabut, terus iseng, tau-tau nyampe sini,” ujar Wooseok sekenanya.

“Kirain beneran nyusulin gue karena gue gak ada di tempat biasa. Udah seneng padahal,” pemuda tersebut mencebik.

DANCING ON ICETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang