"Terima kasih telah membuatku bahagia lewat cara yang orang lain tak bisa."
~Shaenette Mahardika~
•••
Shaenette tengah bersantai di rooftop sekolahnya. Saat ini pukul 16.00, sehingga kebanyakan murid SMA Gunadhaya sudah pulang. Sahabat Shaenette pun juga sudah pulang. Gadis itu berdiri di pinggir pembatas rooftop sambil mengamati pemandangan di bawah. "Apa gue ga berhak bahagia?" gumam Shaenette sedih.
"Bolehkah jika gue berharap waktu diulang kembali?"
"Gue pengen kembali ke masa-masa dulu. Masa ketika keluarga gue masih utuh, masa ketika orang-orang yang gue sayang ada di sekeliling gue, masa ketika gue ga pernah merasa sendiri,"
"Gue benci," Shaenette membenci dirinya sendiri. Ia merasa Tuhan memberinya banyak masalah di waktu yang bersamaan. Bahkan sekarang ada orang yang ingin membunuhnya.
"Seharusnya dari dulu gue ga pernah lahir!" teriak gadis itu. Tangisnya pecah, ia tak bisa menahannya lagi. Air mata berjatuhan di pipinya.
"Lo ga boleh ngomong kayak gitu," suara bariton seseorang mengagetkan Shaenette. Gadis itu mengusap air matanya lalu berbalik. Ia melihat Arion di belakangnya. "Ngapain lo di sini?!" tanya gadis itu.
"Terserah gue lah, emang ni sekolah punya nenek lu?"
"Lo..denger semuanya?"
"Iya,"
Shaenette menundukkan kepalanya lesu. Melihat gadis itu tengah bersedih, Arion lalu mendekatinya, mengikis jarak di antara mereka.
"Seharusnya kalo lo mau teriak-teriak kayak tadi, lo pastiin dulu ada orang ga di sekitar lo. Jangan lakuin hal ceroboh lagi kayak tadi, untung gue yang denger, kalo orang lain gimana? Mungkin besoknya bakal ada gosip siswi baru di SMA Gunadhaya adalah seorang cewek gila," ucap Arion. Entah bermaksud membuat lelucon untuk menghibur Shaenette, atau malah mengejek gadis itu dan malah membuatnya kesal.
"Apaan sih lo?!" Shaenette sudah dibuat kesal.
"Gue tau lo lagi ngalami masalah yang berat banget, tapi jangan bunuh diri di sini dong. Ntar sekolah ini jadi angker gara-gara ada hantu lo,"
"Siapa yang mau bunuh diri coba?! Gue cuman mau ngeluapin emosi gue?! Lo pikir gue bakal mati bunuh diri konyol di sini?" ucap gadis itu lalu berjalan melewati Arion. Namun, Arion mencekal lengan gadis itu.
"Lepasin ta-," belum sempat Shaenette melanjutkan perkataannya, tubuhnya telah dipeluk oleh Arion. Arion mendekap tubuh gadis itu, memeluknya erat. "Ternyata lo pendek ya," ucap Arion di sela-sela pelukannya. Tinggi Shaenette memang hanya sebatas dagu Arion.
"Lepasin gue,"
"Gini dulu bentar boleh ga? Bentar aja," ucap Arion.
Tanpa Shaenette sadari, Arion juga tengah meneteskan air matanya. Shaenette membalas pelukan cowok itu. Ia merasakan kenyamanan di sana.
Setelah beberapa saat, Arion melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Shaenette. "Lo baik-baik aja?" tanya Shaenette.
Arion tidak menjawab. Ia menggandeng tangan gadis itu lembut menuju sofa usang yang berada di sana. Arion duduk di sofa itu dan Shaenette duduk di sebelah cowok itu.
"Di sini dulu aja, ngeliat matahari terbenam," ucap Arion.
"Lo gila?! Gerbang udah ditutup, kita keluar lewat mana?" bingung Shaenette.
Arion menunjukkan sebuah kunci di depan wajah Shaenette.
"Itu kunci gerbang sekolah?" tanya Shaenette.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARSHA (Telah Terbit)
Novela JuvenilArion, ketua geng motor VEGAZ. Geng motor yang terkenal hingga se-DKI Jakarta. Arion bersekolah di SMA Gunadhaya, sekolahnya anak-anak elit kalangan atas. Tampan? Sudah pasti. Hidung mancung, kulit putih, rahang tegas, tak lupa sebuah kalung emas pu...
