Hari demi hari terus berlalu. Hyeri menjalani kehidupannya sendiri tanpa Jungkook.
Hyeri hampir setiap hari ke rumah sakit kecuali jika ia ada urusan lain.
Seperti sekarang, ia sedang mengusap lembut pipi Jungkook.
“aku mencintaimu Jungkook dan selalu mencintaimu.” bisik Hyeri tepat di telinga Jungkook.
Hyeri menatap Jungkook lesu lalu kembali duduk.
“dulu.. Aku sangat sulit menerima mu. Karena yang aku cintai bukan lah dirimu, tetapi Jimin.” Hyeri mulai mengingat masa masa dulu ketika bertemu dengan Jungkook.
Hyeri menarik napas lalu menghembuskannya pelan.
“dulu aku terpaksa menerima dirimu, karena ibuku. Namun, sekarang rasa cinta itu benar benar ada. Aku kira aku tidak akan bisa mencintaimu.” Setetes air matapun jatuh membasahi pipi Hyeri.
Hyeri tersenyum tipis. “kau sangat baik padaku. Kau memperlakukan ku sebagai ratu. Kau benar benar sukses menjadi seorang suami.”
Hyeri menghapus air matanya. “Seharusnya aku tidak datang di kehidupanmu. Mungkin jika aku tidak datang—
Hyeri terdiam sebentar. “—semua ini tak akan terjadi.”
Tangis Hyeri pecah, mengingat kenangan yang mereka lakukan dahulu.
Hyeri mengusap perutnya pelan. “Jungkook. Bukankah kau ingin memiliki anak yang lucu dan pintar seperti dirimu? Mungkin sebentar lagi dia akan hadir di dalam perut ku.”
Hyeri kembali menghapus air matanya. “tapi.. Aku mohon, setelah dia hadir, kau harus bangun. Aku yakin kau pasti sangat senang jika mengetahui diriku hamil, hm?”
“Jungkook. Sungguh, aku minta maaf. Maaf karena diriku, hidupmu menjadi sengsara.” ucap Hyeri lalu mengusap pelan tangan Jungkook.
“aku tahu kau menyayangiku. Aku juga menyayangimu. Maaf kan aku.” lalu Hyeri menangis hingga dirinya tertidur dengan memegang erat tangan Jungkook.
|hyeri pov.
aku mengucak mata pelan, lalu memudarkan pandangan ke sekitar.
Aku melotot ketika melihat dokter dan suster di depanku, lalu beralih ke Jungkook yang kejang kejang.
Tiba tiba aku di tarik oleh suster untuk keluar dari ruangan, namun ku menggeleng lalu terjongkok di belakang pintu.
"aku tidak mau keluar.." ucap ku yang mau tak mau suster angguki.
suster pun kembali membantu sang dokter bekerja.
aku melihat sang dokter menggosokan alat defibliator lalu di tekan di dada Jongkook.
karena aliran listrik dari alat tersebut membuat Jungkook seperti tersetrum.
dokter terus mencoba dengan alat tersebut. Aku hanya diam di pojokan sambil berdoa agar Jungkook selamat.
aku memejamkan mataku di barengi dengan tangisan ku, perasaan ku makin lama tidak enak.
Tiba tiba ku dengar helaan napas sang dokter, alat tersebut pun sudah tidak berbunyi lagi, seketika keadaan sunyi.
Aku membuka mata ku pelan, berharap semua baik baik aja.
Aku melotot ketika mendapati Jungkook di depan ku dengan tersenyum cerah. Karena tidak percaya aku mengucak mataku kasar lalu menampar pipi ku sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAKE LOVE
Fiksi Penggemar"Ingin kembali ingat kisah kita, namun, semua hancur karena diri ku." -Jung Hyeri.
