Selamat menjelang malam teman-teman Gimana kabarnya hari ini? Jangan lupa makan malam yaww.
Selamat mendengarkan playlist yang aku putar ya.
Jangan lupa vote dan komen yaww.
Happy Reading
**
Keesokan paginya, Alena sempat terbangun saat subuh, namun kembali tertidur dan baru terjaga saat matahari telah tinggi. Perempuan itu langsung melangkah ke ruang keluarga.
“Hari ini nggak ada jadwal, Sayang?” tanya Aira, ibunya.
“Ada, Mah, tapi baru siang nanti,” jawab Alena sambil duduk.
“Leya bolos, Tan,” celetuk Revin.
“Ngaco aja lo,” balas Alena sambil manyun.
“Jangan didengerin, Mah. Bang Revin suka ngarang,” tambahnya cepat.
“Sana gih balik aja ke Bandung, nyebelin!” usir Alena kesal.
“Alena.” Nada suara ibunya berubah tegas.
Saat Mamahnya menyebut namanya lengkap, itu pertanda ada batas yang nyaris dilanggar.
“Tuh, dengerin,” goda Revin.
“Ngeselin banget sih lo,” dengus Alena.
Meski sering bikin Alena kesal, Revin juga sosok yang hangat. Laki-laki itu selalu menuruti permintaan Alena, seperti semalam misalnya.
Mereka berdua seperti—tom and jerry—kadang saling berantem, kadang tak terpisahkan. Keberadaan Revin membuat rumah tak terasa sunyi bagi Alena, anak tunggal yang ayahnya sibuk bekerja, dan hanya ditemani Mamah serta Bibik. Ia kerap berharap ingin memiliki adik, namun usia ibunya yang telah memasuki dua perlima abad membuat harapan itu mustahil.
Pukul 08.30, Alena bergegas mandi. Hari ini ia punya kelas pukul 09.30 dan dosennya terkenal killer—tegas dan tak mentolerir keterlambatan. Ia pun bersiap lebih awal, agar tidak terlambat masuk.
Pukul 09.15, Alena sudah rapi sambil menenteng tas. Perempuan itu pun menghampiri Revin untuk meminta diantar ke kampus.
“Bang,” panggil Alena sambil menghampiri.
“Hm?” sahut Revin, tanpa menoleh dari ponselnya.
“Anterin gue ke kampus ya. Mobil gue masih di bengkel," ujar Alena dengan nada setengah memohon.
Revin mengangkat alis. “Gue bisa anterin, tapi ga gratis ya,” ucapnya santai, senyum jail mengembang di wajahnya.
“Pelit banget sih lo sama adik sendiri!” gerutu Alena dengan muka cemberut.
“Yaudah deh, ayo.” ucap Revin mengalah.
“Nah, gitu dong. Bang Revin emang terbaik,” kata Alena sambil tersenyum cerah.
Sebelum berangkat, Alena berjalan ke belakang rumah, tempat sang ibu sedang merawat tanaman di kebun mungil.
“Mah, Leya pamit berangkat kuliah ya,” ucapnya lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alena & Arka [Terbit]
Teen FictionAlena dan Arka, dua remaja yang baru saja memasuki dunia perkuliahan, ternyata sejak mereka lahir sudah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Meskipun merasa terpaksa dan enggan, mereka tak bisa menghindari kenyataan bahwa takdir mereka sudah dite...
![Alena & Arka [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/222692566-64-k93037.jpg)