32. Bertemu

5.8K 178 6
                                        

Halo gaiss, selamat malam. Jangan lupa makan malam yaww.

Jangan lupa vote dan komen yaww.

Happy Reading

**

Sudah satu bulan berlalu sejak hubungan Alena dan Arka berakhir. Selama itu pula mereka belum pernah bertatap muka lagi. Tak ada kejadian tak sengaja berpapasan atau bertabrakan. Seolah semesta berpihak kepada mereka berdua untuk menjaga luka masing-masing yang tetap tersembunyi.

Bagi Alena, hal itu sangat diharapkan Alena. Karena tak bertemu Arka adalah bentuk ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Setidaknya ia tak harus menahan getir yang selalu datang saat kenangan waktu sore itu berputar di dalam ingatannya.

Setelah sekian lama, Alena dan sahabat-sahabatnya tidak nongki, karena kesibukan masing-masing. Hari ini, mereka sepakat untuk nongki di Monokafe. Momen ini sangat dinanti oleh mereka berempat.

Alena baru saja selesai urusan dengan kelompok tugas kuliahnya, ia menang tak sekelompok dengan Aureen. Sahabatnya itu sudah menuju kafe duluan dan kini Alena segera menyusulnya. Namun ketika dirinya ingin menuju parkiran gedung fakultasnya, tiba-tiba ada suara familiar menghentikan langkahnya.

“Mau pulang, Len?” tanya Mahendra ketika melihat Alena ingin menuju parkiran.

“Eh, Kak Mahen,” sahut Alena sedikit terkejut, lalu tersenyum.
“Nggak, ini mau ke Monokafe. Mau kumpul sama temen-temen.” lanjutnya.

“Kak Mahen sendiri baru sampai atau mau pulang?” tanyanya sambil memperbaiki letak tas di pundaknya.

“Tadi udah sempat ada kelas, terus mampir ke perpustakaan sebentar. Ini mau lanjut kuliah lagi,” jawab Mahendra santai.

“Yaudah, Kak. Gue duluan ya. Takut ditunggu yang lain,” ucap Alena cepat.

Mahendra hanya mengangguk. “Iya, hati-hati, Len.”

Alena masuk ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju Monokafe. Di sepanjang perjalanan, Alena tersenyum antusias karena ia dan sahabat-sahabatnya berkumpul lagi.

Begitu tiba di kafe, Alena langsung masuk ke kafe. Di dalam, Aureen yang duduk di pojok ruangan langsung melambai.

“Itu Lena!" seru Aureen antusias.

Namun sekejap kemudian, mata Alena bertemu dengan sepasang mata yang tak pernah ia lihat lagi sejak hari itu—mata milik Arka, yang baru saja keluar dari arah toilet.

Waktu seolah berhenti. Tatapan mereka bertubrukan, Alena langsung menghindari tatapan itu. Tubuh Alena kaku. Seakan tubuhnya tak mampu bergerak, dadanya sesak seketika.

Apa ini? Kenapa Arka juga ada di sini? Apa ini semacam jebakan? Alena bingung harus apa sekarang.

Alena menunduk, berusaha memperbaiki napasnya. Ia bahkan sempat berpikir untuk putar balik menuju pintu, tetapi suara Aureen sudah terlanjur memanggilnya tadi. Tidak mungkin Alena tiba-tiba bilang dia ada urusan mendadak.

Dengan penuh keberanian, Alena berjalan menghampiri meja sahabat-sahabatnya.

"Hai, sorry lama," ucap Alena sambil tersenyum tipis, berusaha menutupi kegelisahan dalam dirinya saat ia menghampiri meja tempat teman-temannya duduk.

 Alena & Arka [Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang