"Dengerin papi, hari dimana kamu lahir di dunia itu adalah hari paling bahagia buat hidup papi. Jangan mikir kamu itu beban. kamu itu kebahagiaan papi."
🎉
#1 minrene
Sekarang Ben dan Tania duduk di sofa yang ada di studio. Keduanya tampak canggung setelah insiden menangis barusan..
"Ehem.... malu banget deh gue nangis depan elo" Kata Ben mencoba mencairkan suasana.
"Hehehe santai aja kali sama gue" Balas Tania.
"Makasih ya Tan... setidaknya tadi gue bisa tenang. Gatau deh besok besok gimana" Ben berkata seakan kedepannya semua akan terasa berat di pundaknya.
"Kan gue bilang ada gue. Gue yang bakal temenin elo. Kalau ada apa apa cerita sama gue." Lama lama Tania gemas juga pada pria di depannya ini.
"Ini... elo serius? Gue kira elo cuma asal ngomong biar gue diem aja barusan."
"Ack" Teriak Ben, Tania yang gemas mencubit perut Ben.
"Kok galak sih... awas aja anak gue di sekola elo cubit juga!" Protes Ben.
"Beennnnn" Rengek Tania.
"Hahahaha... becanda Tan... lucu banget sih" Ucap Ben sambil mengelus kepala Tania, seketika Tania yang tadinya sedang merengek itu diam dan langsung melihat ke arah Ben.
Ben yang sadar diperhatikan juga ikut melihat ke arah Tania.
Deg
Deg
Deg
Entahlah ini suara degup jantung siapa, yang pasti keduanya sekarang merasakan jika jantungnya sendiri berdetak lebih cepat dari biasanya.
Seakan ada dorongan Ben mulain memajukan wajahnya, Tania mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menutup matanya.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Tania. Sadar tidak ada penolakan, Ben menciumnya lagi dengan sedikit lumatan. Beberapa saat Tania hanya diam, sampai tubuhnya tak kuasa menolak Ben dan membalas ciuman Ben sambil mengalungkan tangannya ke leher Ben.
Ciuman yang tadinya lembut pun perlahan makin menuntut dan Ben tidak tahan untuk mengerang ketika jari jari Tania sesekali mensugar rambutnya.
"Bennn"
Mereka sama sama kehabisan nafas dan menghentikan ciumannya. Tania yang malu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ben.
"Tan... pindah..."
"Hmmm?" Tania yang tidak mengerti hanya bertanya tanpa memindahkan kepalanya.
"Kepala elo jangan disitu dong... takut khilaf gue" Ucap Ben putus asa.
Tania yang seakan menyadari bahwa nafas Ben sudah berubah berat menjauhkan kepalanya dengan wajah memerah.
Ben mengendalikan dirinya. Dia mencoba menetralisir degup jantungnya. Diraihnya tangan Tania ke dalam genggamannya.
Brakkk!!!
Mendengar pintu terbuka Tania dan Ben sontak menoleh.
"Lo ga kenapa napa?" Tanya Hansel yang tiba tiba datang dengan Satria, Candra dan Kaisar.
"Untung elo datang sekarang, lebih cepet dikit aja bahaya" Refleks Ben yang lansung dihadiahi pukulan kecil oleh Tania.
"Abis ngapain lo nyet?" Tanya Satria.
Ben hanya memberikan senyuman jahilnya.
"Percuma anjir buru buru kesini... liat kan dianya aja biasa aja" Kata Candra kesal.
Pasalnya setelah Satria menerima telfon dari Tania, dia langsung bilang kepada teman temannya dan Kaisar mengusulkan untuk menyusul, ditakutkan ada kejadian yang tidak diinginkan. Bagaimanapun Kaisar melihat langsung perjuangan Ben kala itu.
"Ya kan gue takut aja nyet kaya dulu" Kaindra yang merasa terpojokkan akhirnya angkat bicara.
"Tan... kok lipstik elo berantakan?" Tanya Hansel jail, yang membuat Tania memerah malu.
"Bangsat Hansel mulut lo" Makin Ben.
"Hahaha yakin gue ini ga ada yang perlu dikhawatirkan lagi guys" Kata Candra.
"Tan... gue aduin ke tante ya kalau macem macem" Ancam Satria.
"Apasi lo" Balas Tania.
"Gamacem macem lah paling semacem tiap jenis" Hansel menanggapi lagi.
"Elo emang paling paham" Balas Ben sambil bergurau.
Sementara Tania? Rasanya mau tenggelam saja. Bagaimana mungkin dia bisa ada diantara orang orang yang bercandanya seperti ini.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.