Ben termenung di tempat duduknya, baru saja dia menyelesaikan rekaman untuk artis baru yang akan debut dari agensinya.
Sejak Bastian keluar dari rumah sakit, Ben dan Bas memutuskan pindah ke rumah orang tua Ben. Bagaimanapun Bas perlu perhatian khusus dan Ben yang sudah cukup lama meninggalkan pekerjaannya tidak akan bisa menemani Bas terus menerus.
Ben selama ini hanya mengelak dengan kenyataan yang ada, setidaknya dia ingin semesta memberikan sedikit waktu untuk nya. Sedikit waktu untuk dia agar bisa menenangkan pikirannya.
Dia bekerja keras menyelesaikan tugasnya sebelum meminta cuti panjang atau pengunduran diri? Dia belum tau. Tapi yang jelas dia tidak ingin hal buruk yang pernah terjadi terulang kembali.
***
Tania waktu itu melihat semuanya, melihat bagaimana Ben dan Bas yang saling menguatkan di rumah sakit. Tapi akhirnya Tania memilih untuk pergi dan kembali ke rumah sakit beberapa saat kemudian.
Tania melihat keramaian di meja tempat biasanya Hansel dan teman temannya berkumpul, ini bahkan sudah pertemua kesekian kalinya mereka berkumpul tanpa adanya Ben. Tania kira Ben kemarin kemarin absen karena Bas, tapi melihat Bas yang sudah kembali ke sekolah dan ketidakhadiran Ben diperkumpulan rutin ini sedikit menyita pikirannya. Tapi siapa Tania yang bahkan harus berpikir berkali kali untuk bertanya apalagi menghubungi Ben.
"Elo kenapa ngelamun?" Selina menyadarkan Tania dari tempatnya. Hubungan keduanya baik baik saja tanpa adanya kecanggungan setelah insiden Gery kemarin.
Tania hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Selina.
Selina yang sadar arah pandang Tania langsung berkata.
"Berisik banget ya, kalau pada sedih malah makin bacot sih emang mereka"
Tania menyernyit.
"Iya, walaupun kemarin lamarannya Kaisar berhasil tapi ya mereka gabisa sesenang kelihatannya. Liat aja mereka ketawa tapi sorot matanya sedih" Jelas Selina, dan benar saja jika diperhatikan dengan seksama. Gurauan dan candaan disana seakan dibuat buat.
"Bas udah masuk sekolah?" Tanya Selina.
"Udah kok" Supah Tania penasaran dengan perkataan Selina barusan.
"Maksud elo kenapa sih? Mereka sedih kenapa? Ben?" Akhirnya Tania bertanya.
"Iya siapa lagi? Dia aja jarang kesini. Lagi kerja rodi. Gatau deh beneran gila kerja atau emang lagi butuh pengalihan. Kasian sebenernya sama Ben, dia aja sampai dititik sekarang udah perjuangan banget ditambah sakitnya Bas, kayanya bahagia si Ben ga pernah bertahan lama" Jelas Selina lagi.
"Bas sakit? Bukannya udah sembuh?" Tania panik tentu saja
Sejauh penglihatannya Bas baik baik saja.
"Loh elo belum tau? Gue kira udah tau. Bas kena penyakit turunan dari nyokap nya... dia baik baik aja tapi sebenernya engga" Dan selanjutnya Tania tidak bisa hanya tinggal diam, dia langsung pergi meminta izin pada Selina. Entahlah seperti suatu keharusan bagi Tania untuk menghampiri Ben sekarang.
***
Sudah beberapa kali Tania mendial nomor Ben tapi tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya dia memutuskan menanyakan keberadaan Ben pada Satria.
"Hallo Sat"
"Kenapa Tan, tumben... eh elo ngapain nelpon gue kan di cafe kokoh" Balas Satria.
"Gue cabut tadi. Elo tau gak Ben kemana?" Satria bingung dengan pertanyaan Tania lalu menjauh dari teman temannya.
"Elo ngapain nanyain Ben?" Tany Satria dia langsung teringat obrolannya dengan Bas beberapa waktu yang lalu.
"Duh nanti aja deh jelasinnya. Elo tau gak dia dimana kok gue telpon ga diangkat" Kata Tania lagi.
"Elo lagi ngapain sih?" Satria sadar sepertinya Tania tergesa gesa
"Gue nyetir Satria!!! Buruan jawab" Tania mulai kehilangan kesabarannya.
"Cih, paling dia d studio. Lagi kelarin rekaman hari ini."
"Gue boleh masuk gak sih?" Tanya Tania.
"Susah sih. Elo harus ada janji dulu. Emmm bilang aja gue yang nyuruh. Nanti gue hubungin orang kantor deh biar elo bisa masuk"
"Thanks Sat. Gue tutup yak" Tania segera membawa mobil nya menuju kantor agensi Satria dan Ben.
***
Sekarang Tania sudah berada di depan pintu studio dimana Ben, yang menurut resepsionis di depan ada di dalamnya. Sesaat Tania ragu untuk masuk karena takut mengganggu Ben. Kalau kalau pria itu sedang sibuk. Tapi rasa khawatirnya mengalahkan keraguan itu.
Akhirnya Tania membuka pintu, karena sejak tadi dia sudah mengetuk namun tak ada jawaban.
"Ben" Panggil Tania, dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru studio mencari sosok Ben, karena studio ini cukup sepi. Nihil Tania tidak menemukan Ben.
Hiks
Baru saja Tania mau melangkah pergi dia berbalik, satu pintu yang membuatnya penasaran. Pintu rekaman terbuka sedikit dan Tania memasukinya.
Tania tercekat, refleks menutup mulutnya dengan tangan. Sesaat mematung ketika melihat Ben duduk dilantai pojok ruangan. Dia yakin itu Ben walaupun mukanya disembunyikan di kedua lututnya.
Dia menangis. Hanya terisak.
"Ben" Panggil Tania lembut, Tania yakin Ben mendengar tapi enggan mengangkat kepalanya.
Perlahan Tania berjongkok di dekat Ben mengelus pundak yang terkesan rapuh itu.
"Elo ga sendiri Ben" Kata Tania. Entahlah hati Tania terasa sakit melihat pria yang biasanya ceria ini kiti begitu rapuh, terpuruk. Bahkan dia terisak.
Tania melihat pergerakan kepala Ben yang akhirnya mendongak, matanya begitu menyiratkan kepedihan.
"Gue gabisa Tan" Katanya dengan suara parau.
Tania tidak kuat lagi.
Segera dia menarik Ben ke dalam pelukannya.
"Elo bisa Ben... elo bisa... elo ga sendiri... ada gue..." Kata Tania. Dan tangis Ben akhirnya keluar bukan lagi isakan. Tapi Benar benar tangisan yang Tania yakin selama ini dipendam oleh pria itu. Tania hanya bisa menepuk lembut punggungnya berharap memberikan kenyamanan pada Ben. Hanya itu saja keinginannya untuk sekarang.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Once More
Romantizm"Dengerin papi, hari dimana kamu lahir di dunia itu adalah hari paling bahagia buat hidup papi. Jangan mikir kamu itu beban. kamu itu kebahagiaan papi." 🎉 #1 minrene
