Elang beberapa kali menatap layar ponselnya yang menunjukkan wajah Alea yang tengah tertawa, dari 15 menit yang lalu ia menunggu telepon dari Alea, menunggu kabar gadis itu yang kini tengah berada di Bandung bersama Diandra.
Raut khawatir tidak bisa lagi ia tutupi, pasalnya tadi ia sempat mendapat laporan dari Diandra bahwa kekasihnya itu tiba-tiba mengeluhkan rasa pusing dengan wajah pucat pasi.
Memang akhir-akhir ini Alea benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Apalagi saat mendengar bahwa pegawai disalah satu clothing line nya membawa kabur uang hasil penjualannya dengan jumlah yang tidak sedikit. Alea tidak mempermasalahkan seberapa jumlah uangnya, yang Alea sesalkan kenapa harus orang yang ia percayai itu begitu teganya berbuat seperti itu pada dirinya.
Elang jelas tahu rasa shock yang Alea alami, apalagi pola makannya yang berantakan, dan kurangnya tidur. Hampir 2 hari ia tidak melihat wajah gadisnya, apalagi sekarang mendengar kabar Alea sakit.
Tiba-tiba telepon Elang berbunyi, menampilkan nama Diandra dilayarnya. Dengan cepat Elang mengangkatnya
"Hallo, Di!!"
"Kak si Ale pingsan"
Tanpa menjawab lagi Elang memutuskan teleponnya begitu saja dan bergegas beranjak keluar ruangannya dengan langkah cepat.
"LANG LO MAU KEMANA?" tanya salah satu teman kantornya
Elang tak menjawab dan terus saja berjalan cepat mengundang tatapan heran dari karyawan lain apalagi dengan raut wajah khawatirnya yang terlihat jelas.
Elang mengendarai mobilnya dengan cepat, setitik air mata jatuh dipipinya. Kalian boleh mengatakan Elang cengeng, dan Elang rasanya tidak akan keberatan apalagi jika bersangkutan dengan Alea. 5 tahun bersama gadis itu, Elang tidak pernah mendengar gadis itu pingsan, bahkan Alea sendiri bilang kalau dirinya memang tak pernah pingsan sama sekali.
Setelah beberapa jam, Elang sampai di Rumah Sakit tempat Alea dirawat, tadi Diandra sempat memberitahunya bahwa Alea dibawa ke rumah sakit. Ia berjalan cepat kearah ruangan gadisnya itu. Saat berada didepan ruang rawat Alea, Elang sempat mengintip dikaca kecil yang berada dipintu untuk memastikan ini ruangan Alea atau bukan.
Elang melangkahkan kakinya memasuki ruangan Alea, gadis itu tengah terbaring lemah dengan infusan yang berada dipunggung tangannya.
Elang mendekat kearah Alea yang tengah memejamkan mata "Sayang!" Panggil Elang lembut
Alea membuka matanya pelan lalu tersenyum tipis mendapati Elang yang tengah menatapnya dengan raut wajah khawatir, tangan Alea yang terbebas dari selang infus bergerak membelai lembut laki-laki tampan dihadapannya ini "aku gak apa-apa, gak usah khawatir. Aku cuma kecapean aja" ujar Alea pelan
Elang menggenggam tangan Alea yang berada dipipinya lalu ia kecup "Tetep aja aku khawatir, apalagi kamu sampai masuk rumah sakit gini"
Alea menggerakkan badannya berniat untuk duduk, dengan sigap Elang membantunya pelan-pelan. Dengan cepat Alea memeluk tubuh Elang, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Elang. 2 hari tidak bertemu membuat Alea rindu laki-laki jangkung dipelukannya ini.
"Kak!" Panggil Alea pelan
"Kenapa sayang?" Sahut Elang lembut dengan tangannya yang tak berhenti mengusap punggung Alea
"Aku bingung, mau bawa masalah ini kemana"
"Sayang, kamu emang gak salah kalo mau bawa masalah ini secara damai, tapi tetap aja apa yang dia lakuin itu salah di mata hukum. Jadi, udah seharusnya dia dapet hukuman yang sesuai sama perbuatannya"
Alea memang sempat menentang saat Izal dan Papanya akan melaporkan pegawainya itu ke jalur hukum dan akan menyelesaikan masalah ini secara damai dan kekeluargaan. Tapi rasanya makin sini makin membuat Alea pusing, ia jadi bingung harus berbuat apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA-ELANG (COMPLETED)
FanfictionBukan tentang Bad Boy atau Bad girl, bukan juga cowok cool yang akhirnya luluh, ini hanya cerita seorang Aleana dan Elang yang bertemu tepat disepertiga malam. *ps: sangat teramat ringan, tanpa ada konflik berat didalamnya :)
