Semeru : Will you marry me?

936 93 12
                                        

"Ini si Elang mana nih?" Tanya Randi

Sesuai rencana Elang, mereka yang beranggotakan 18 orang itu akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Dan kini mereka tengah menunggu Elang, Alea, Diandra dan Fero di Ranu Pani, atau titik awal tempat berkumpulnya para pendaki Gunung Semeru pagi itu.

"Tuh dateng mereka!!!" Spontan semuanya menoleh kearah yang ditunjuk Tami

"Sorry gaes telat!!" Seru ke-4 orang yang baru datang tadi kompak.

"Yaudah langsung daftar ulang aja!!" Ujar Rafi yang diangguki semuanya. Mereka mulai mengisi form daftar ulang

Selesai mengisi form daftar ulang mereka memulai pendakian mereka di pagi hari yang cerah ini. Dari Basecamp Ranu Pani mereka mengambil jalur pendakian Watu Rejeng.

Sama seperti pendakian awal bersama-sama beberapa tahun lalu, setiap jalan yang mereka lewati tak pernah sepi, selalu saja ada celetukan yang membuat mereka tertawa bersama. Dan juga kali ini mereka tidak memisahkan diri seperti waktu itu, tidak membagi-bagi kelompok, mereka berjalan bersama-sama.

Masih sama, Elang dan Alea tetap berjalan bersama karena sudah menjadi kebiasaan mereka, apabila mereka berada dijalan sempit Elang pasti menyuruh Alea berjalan lebih dulu didepannya, begitu juga apalagi jalan menanjak, Elang akan setia menuntun Alea.

Meskipun dengan beban berat berupa carrier dipunggung mereka masing-masing, 18 orang ini mengamati pemandangan sekitar. Dan jalan saat itu masih didominasi perkebunan warga, tak jarang juga mereka menyapa warga sekitar yang tengah bekerja dikebun itu.

Tak terasa sudah lewat satu setengah jam mereka berjalan, dan kini mereka mulai memasuki hutan. Jalannya juga hanya muat untuk satu perjalan kaki, jadi mereka berjalan sambil sesekai bersenandung

"NAIK KERETA API" Lagi-lagi Rafi yang memimpin komando paduan suara itu

"TUTUTUTUT"

"SIAPA HENDAK TURUN?"

"TAPI DA KITA MAHHHH GAK ADA YANG MAU TURUN!!!" ini suara Izal, ia mengganti liriknya membuat yang lain tergelak.

Medan masih landai, tapi ada satu kebiasaan Alea yang tidak hilang, yaitu mudah tersandung. Membuat Elang yang memang berjalan dibelakang gadis itu ikut menahan carrier Alea agar gadis itu tidak mudah tersandung.

"Sayang!" Panggil Elang

"Kenapa?" Sahut Alea tanpa menoleh

"Carrier kamu kayaknya berat banget tuh" tebak Elang

Alea terdiam sebentar untuk merasakan beban dipunggungnya itu "lumayan sih"

"Yaudah nanti kurangin, pindahin ke tas aku masih ada yang kosong kok"

"Gak apa-apa Kak, kuat aku. Lagian punya kamu juga udah berat"

"Nanti kamu oleng terus kalo gak dikurangin"

"Aman aku, gak apa-apa"

Elang hanya mendengus, lalu mencopot topi yang ia kenakan untuk dikenakan dikepala Alea. Anehnya meski seringkali diperlakukan manis seperti ini, perasaan Alea selalu saja tak berubah malah semakin membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Mereka lanjut melakukan perjalan, karena memang perjalanan mereka ini masih panjang.

Beruntungnya cuaca sedang cerah-cerahnya, semilir angin menerka wajah mereka, meskipun dengan keadaan yang sudah mulai berantakan dan keringat bercucuran tidak mengurangi rasa semangat mereka.

Mereka terus berjalan hingga tak lama mereka disambut oleh pemandangan Danau Ranu Kumbolo yang terbentang luas didepan mereka kini. Air danau yang kebiruan itu benar-benar terlihat cantik, ditambah dipinggir danau banyak berdiri tenda warna-warni milik para pendaki lain.

ALEA-ELANG (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang