"Ada apa nona??" Juan menatap penuh tanya pada Karina yang tadi memanggilnya, ia mengenalnya tentu saja, siapa yang tak mengenal putri bungsu keluarga Genta itu
"Hmmm begini, boleh saya menumpang dengan anda? Saya tak mungkin pulang berjalan kaki dari sini" gadis itu memelas berharap Juan berbaik hati memberinya tumpangan
"Bukannya tadi nona pulang dengan tuan Jeno? Lalu dimana ia sekarang?"
"Ahh dia ada urusan, jadi saya menyuruhnya menurunkan saya disini saja, daripada membuatnya harus bolak balik mengantar saya dan mengerjakan urusannya" Tentu saja Karina harus berbohong, tak mungkin ia mengatakan jika ia bertengkar dengan Jeno karena ia mengolok kekasihnya dan dengan tega Jeno menurunkannya disini.
"Baiklah, tapi bagaimana saya harus mengantar nona? Sedangkan saya naik sepeda"
Karina melirik sepeda hitam milik Juan, benar juga, tapi...
"Ah saya duduk di depan saja" usul gadis itu
"Anda yakin nona?" Juan menatap gadis didepannya heran, setelah dibuat kaget dengan putri bungsu keluarga terkaya ternyata mengenalnya meskipun mungkin hanya tau namanya saja, lalu gadis nona muda itu juga meminta tumpangan padanya bahkan mau menaiki sepeda nya.
"Kenapa? Kau tidak mengijinkan ku?"
"Bukan, bukan begitu, hanya saja...."
"Ahh sudahlah, cepat nanti hari menjadi gelap, dan kau harus mengantar saya sampai rumah"
Dengan rasa sungkan, Juan menaiki sepedanya lalu Karina tanpa rasa malu atau jijik duduk menyamping dengan semangat di depan Juan, gaun yang di mata Juan hanya gaun hitam putih itu tak Juan pedulikan jika harus kotor terkena ban sepedanya, untunglah gaunnya tidak panjang, jadi tidak akan beresiko tergiling ban sepeda.
"Anda siap nona?"
"Siap!"
Karina tak bisa menahan senyum bahagianya, ini pengalaman pertamanya naik sepeda apalagi dibonceng oleh laki-laki yang ia hanya tau namanya saja.
"Juan"
Juan menunduk, menatap tanya pada Karina yang menatap lurus ke depan membuat hidung laki-laki itu terkena rambut Karina yang berterbangan di tiup angin.
"Kau sekolah di sekolah itu?"
Juan tersenyum mengerti kemana arah pertanyaan gadis itu
"Iya, saya buta warna jadi tidak bisa sekolah di sekolah biasa"
Karina mengangguk santai, meskipun sudah tau entah kenapa ia merasa harus bertanya
"Permainan piano mu sangat bagus"
Juan tersenyum cerah, Karina seakan tak mempermasalahkan kekurangan nya
"Terima kasih" Juan menunduk lagi, sedikit membaui aroma rambut gadis itu, ia tau jika ia lancang tapi wangi rambut Karina benar-benar menenangkan
"Kau buta warna sejak lahir atau suatu kecelakaan??"
Karina bertanya santai seakan itu hanya pertanyaan biasa, padahal bagi sebagian besar orang mereka akan lebih berhati-hati saat menanyakan suatu kekurangan pada orang lain, tapi lagi-lagi Juan bukannya tersinggung atas pertanyaan blak-blakan gadis itu ia malah semakin tersenyum cerah. Bagi Juan, Karima baru saja secara tak langsung berkata seolah buta warna nya bukanlah sesuatu yang menyedihkan, seakan itu hanyalah masalah biasa yang tak perlu dikasihani. Karena jujur ia benci dikasihani orang lain.
"Bawaan lahir"
Karina mengangguk mengerti
"Ntar belok kanan ya" Gadis itu menunjuk ke arah kanan saat mereka sampai di persimpangan
KAMU SEDANG MEMBACA
PILIHAN✓
De TodoKarina tau dimana posisinya, ia tau hidupnya telah ditentukan sejak ia lahir. Tak ada pilihan dalam hidupnya, semuanya sudah di susun oleh kedua orang tuanya. Hidup penuh kejutan?? Naaaahh tak ada kejutan dalam hidup Karina.
