Didup ini tak ada yang namanya keabadian, semua hal yang ada di bumi ini pada akhirnya akan menghilang juga. Sama halnya dengan kematian, tak ada yang bisa lepas dari itu. Setiap saat kita selalu dibayangi oleh tenggat waktu kapan kita akan menghadap pada-NYA.
Selama 17 tahun Karina hidup, tak pernah Karina merasa kehilangan. Ketika Kakek nenek yang sangat ia sayangi meninggal, Karina tak menangis sama sekali, ketika kucing peliharaan yang sudah bersamanya selama lima tahun mati, dia juga tak menangis. Lalu, kenapa saat mendengar nama itu disebut dan telah pergi untuk selama-lamanya air mata yang Karina kira hanya untuk rasa sakit saja, ternyata bisa meluncur deras untuknya juga.
Karina tak mau percaya begitu saja jadi dia putuskan untuk melihatnya langsung, secepat mungkin. Gadis yang masih memakai seragam sekolah itu berlari di jalanan dengan kalap, matanya menatap lurus sementara pikirannya terus meracau kalau semua yang dia dengar tadi hanyalah sebuah lelucon semata.
Tadi, saat Karina masih menikmati mengobrol ringan dengan Yoshi dan Sakura, seorang bodyguard datang dan mengatakan sesuatu padanya
"Saya rasa nona harus mengetahui ini, pemilik rumah dimana kami menemukan nona kemarin lusa telah meninggal"
Karina tak ingin mempercayai itu, jadi dia menggeleng "Kau berbohong"
"Namanya Juan bukan? Seorang anak laki-laki yang buta warna"
Karina merasa tanah yang dipijaknya menghilang, suara disekitarnya mendengung dan pikirannya hanya tertuju pada sosok yang akhir-akhir ini terus ia pikirkan.
Karina terus berlari sampai Sakura yang datang entah darimana menghentikannya, memeluk dan membawanya ke dalam mobil. Seakan nyawanya menghilang, Karina menurut dan diam saja. Sakura yang duduk disampingnya meracau menyuruhnya tenang dan akan membawanya ke tempat yang ingin Karina tuju.
Saat gadis itu sadar dia sudah berada di depan rumah Juan, berdiri tak percaya menatap pada rumah yang dipenuhi orang-orang yang tak ia kenal.
Juan-nya tak mungkin pergi secepat ini.
"Ayo nona" Sakura menggandeng lengan Karina, membawanya memasuki halaman rumah yang dipenuhi orang-orang.
Air mata Karina meluruh, nafasnya tersendat dan dengan cepat gadis itu menerjang tubuh kaku yang terbaring di sebuah kasur. Mata Juan terpejam dan wajahnya terlihat sangat damai.
Tak ada kata yang keluar dari bibir gadis itu, hanya isakan dan air mata yang semakin deras. Karina menundukkan kepalanya dalam, ego dalam dirinya masih tersisa untuk tak menunjukkan wajah kacaunya terlalu kentara.
Orang-orang disekitarnya mulai berbisik, menebak ada apa gerangan putri satu-satunya Genta berada di rumah seorang laki-laki biasa seperti ini, menangisi nya pula.
Sakura masih belum bisa mempercayai apa yang dilihatnya, Nona-nya untuk pertama kali menangisi orang asing.
Dengan setia, gadis itu berdiri di belakang Karina, sedikit menghalangi pandangan orang-orang.
"Kamu.... Karina?"
Karina mendongak, seorang laki-laki berjongkok di depannya. Sama sepertinya, raut wajah laki-laki itu pun terlihat kacau.
"Aku....temannya Juan"
Karina mengernyit, laki-laki ini terlihat normal tanpa kekurangan jadi tak mungkin dia satu sekolah dengan Juan.
"Teman?"
Laki-laki itu mengangguk, menoleh pada Juan yang terbujur kaku, tatapan matanya menyendu "Hmmm, kami....teman"
"Aku William, panggil saja Will" laki-laki yang ternyata bernama William itu mengulurkan tangan, hendak bersalaman dengan Karina tapi tak digubris oleh gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PILIHAN✓
DiversosKarina tau dimana posisinya, ia tau hidupnya telah ditentukan sejak ia lahir. Tak ada pilihan dalam hidupnya, semuanya sudah di susun oleh kedua orang tuanya. Hidup penuh kejutan?? Naaaahh tak ada kejutan dalam hidup Karina.
