Resti pov's
" Hmm sayang, aku ketoilet sebentar ya." Ijin gue pada David calon suami gue.
" Ia sayang, tapi nanti kamu jangan balik lagi kesini ya langsung ke kamar hotel aja."
" Loh kenapa."
" Pesta ini semakin malam semakin bebas loh, aku yakin pasti kamu gak bakal nyaman d sini kalau nanti, lihat aja tuh teman teman kamu yang lain juga udah pada pergi karna mereka tak semakin malam pesta d sini semakin bebas aku takut terjadi apa apa pada kamu nanti."
" Huh yaudah aku pergi ya, kamu juga jangan terlalu lama d sini."
" Ia sayang, aku d sini cuma mau sapa teman temanku yang lainnya dulu kok setelah itu aku akan pergi kemar ku."
" Yaudah aku pergi ya."
" Ia sayang."
Cup
Sebelum aku pergi David pun mencium kening gue lembut membuat gue terkejut tapi setelah itu gue pun tersenyum tipis pada David, aku sedikit melihat ekspresi Riki, dan terlihat dia semakin mengepalkan tangannya erat seperti menahan amarahnya.
Setelah aku pergi meninggalkan David d sana aku langsung menuju ke kamar mandi.
Saat sampai d kamar mandi umum d dekat hotel itu aku pun langsung masuk dan mengunci pintu dari dalam.
Setelah itu aku langsung masuk ke salah satu bilik untuk menuntaskan keinginanku untuk buang air kecil.
Setelahnya sebelum aku keluar aku menyempatkan diri untuk mencuci tanganku dulu, setelah mencuci tangan aku termenung sambil menatap diriku d depan cermin.
Apakah keputusanku sudah benar. Batinku
Aku menerima lamaran bang David padahal aku tak pernah sedikitpun mempunyai perasaan lebih padanya selain perasaan seorang adik kepada kakaknya.
Ya itu benar, selama 5 tahun pacaran aku tak pernah mencintai bang David, mungkin aku jahat dulu, karna sudah membuat bang David sebagai pelampiasan ku atas rasa sakit yang ku terima dari mantan kekasihku dulu.
Pertemuan kami dulu tidak bisa d bilang normal karna, kami bertemu saat aku sedang hancur hancurnya, kedua orang tua ku tak pernah menyayangiku, mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan tak pernah ada waktu untukku.
Tak ada yang namanya makan bersama, berkumpul bersama, canda tawa bersama, tak ada yang namanya berlibur bersama, tak ada yang menanyakan diriku apakah suka atau tidak dengan sekolah ku, tak ada yang menanyakan bagaimana keseharian ku d sekolah, dan yang lainnya.
Selama ini aku hanya d asuh oleh mbok icah kepala pelayan d rumahku, dia yang selalu membangunkan ku untuk berangkat sekolah, dia yang selalu merawat ku dan memenuhi semua keperluanku, dia yang selalu menanyakan ku kesekolah saat kecil, dia yang selalu mendengarkan keluh kesah ku di saat kedua orang tuaku tak pernah memperdulikan ku, dia yang selalu ada d sisiku d saat aku senang ataupun sedih, dia yang menjadi sandaran ku selama ini.
Mbok icah sudah ku anggap sebagai ibu kedua ku ahhh mungkin mbok icah adalah ibu ku satu satunya karena selama ini ibu kandungku pun tak pernah memperdulikan ku seperti mbok icah memperdulikan ku dan tak pernah menyayangiku seperti mbok icah menyayangiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BULAN (BUnga dan diLAN)
AçãoGimana perasaan kalian dia saat kalian baru pulang dari luar negri tepatnya London setelah kalian selesai melanjutkan pendidikan kalian, kalian dijodohkan dengan teman kecil kalian yang kalian sendiri tak ingat namanya dan juga tak tau rupanya sekar...
