Bab 5 - Jamalludin part 2

443 38 8
                                    

"Kamu ... kenapa ... kok senyum-senyum terus kayak gitu?" Suara parau Jallal, menyadarkan Jodha dari lamunannya yang membuatnya tersenyum geli sedari tadi.

"Kamu udah bangun? Mau makan ... atau minum?"

"Mau nanya ..."

"Nanya ...? Nanya apa?" Jodha jadi bingung.

"Mau nanya ... kenapa kamu senyum-senyum terus kayak gitu? Dari tadi aku perhatikan, kamu senyam-senyum aja." Jodha tersenyum sambil menggenggam lembut tangan Jallal yang sedari tadi dalam genggamannya.

"Aku tadi keinget kisah kita dulu, waktu kamu ngenalin diri dengan nama Jamalludin, kamu ingat?" Jallal tersenyum kecil.

"Tentu saja aku ingat, kenangan itu nggak mungkin aku lupa sampai kapanpun, waktu aku jatuh cinta sama kamu sejak pandangan pertama. Bahkan gara-gara itu, Jamal jadi kesel sama aku." Pikiran Jallal menerawang ke kisahnya enam tahun yang lalu, ketika Jamal, sahabat dekatnya yang jadi teman sekantornya complain ke Jallal.

♥♥♥♥♥♥♥

"Parah lu, brad! Masa Jallaludin ... kamu ganti jadi Jamalludin? Itu artinya kamu ngelibatin aku dalam permainanmu ini, brad!" tegas Jamal, teman sekantor Jallal yang jadi tangan kanannya selama ini.

"Bukan gitu, brad ... aku itu hanya nggak mau mengubah mindsetnya tentang Jallaludin," sahut Jallal sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.

"Maksudnya ...?" tanya Jamal heran yang duduk di depan meja kerja Jallal.

"Gini, brad ... cewek itu sudah dapet informasi kalau Jallaludin itu bawel dan kritis, semua yang tidak sesuai dengan keinginannya, bakal bubar semua!"

"Apa ...? Serius ...? Tapi tunggu ... bukannya itu memang kamu banget? Bawel dan kritis ...?" sindir Jamal sambil menahan tawanya yang hampir meledak.

"Sontoloyo! Enak aja kamu ngomong!"

"Ooo ... jadi karena itu, karena nggak mau dianggep bawel dan kritis, trus kamu nyamar jadi Jamalludin? Enak yaaa ..."

"Ya iyalah! Aku nggak mau dia langsung nuding aku dengan dua kata itu! Bawel dan kritis! Dan lagi cuma nama kamu kan yang namanya mirip sama namaku! Itu alasanku sebenarnya!"

"Oooo ... jadi karena itu, karena kamu nggak mau dituding sebagai laki-laki yang bawel dan kritis sama Jodha, terus kamu berganti peran menjadi Jamal, iya gitu?" Tiba-tiba Rukayah masuk ke ruangan Jallal dan ikut nimbrung pembicaraan mereka.

"Eeeh ... jangan salah, Rukky! Aku nggak ikut-ikutan! Aku sendiri baru tahu tadi waktu Jallal cerita ke aku!" Jamalludin alias Jamal mencoba membela diri di depan Rukayah, yang notabene adalah mantan pacar Jallal.

"Lagian ... memangnya itu masalah buat kamu? Aku berhak kan menentukkan caraku sendiri, waktu kenalan sama cewek lain. Terus terang, aku cuma ingin agar dia memberikan penilaian tersendiri padaku, tanpa ada embel-embel kata orang! Jadi wajar dong, kalau aku berbuat demikian," Jallal juga membela diri di depan Rukayah.

"Yaa ... sudahlah, terserah! Whatever ... yang jelas saat ini kamu ditunggu sama bapak kamu tuu di ruang kerjanya. Tapi tunggu ... ngomong-ngomong mana ni oleh-oleh dari London? Kok sepi-sepi aja?"

"Tenang aja, Rukky ... aku bawa banyak oleh-oleh, kamu bisa ngambilnya di rumah nanti, okay?" sahut Jallal sambil berdiri dari kursinya dan berjalan beralih ke pintu "Oh iya, Ruk ... tadi copian desainnya sudah kamu minta kan ke Jodha?"

"Sudah ... aku sudah menyimpannya di flashdisc, kamu bisa memintanya di ayahmu nanti."

"Oke, terimakasih, Rukky! Kamu memang sekretaris yang selalu bisa diandalkan! Ayoo, Mal ... kita ngadep big boss dulu! Biasa setor muka!"

RENJANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang