BAB 14 - kenangan yang hilang

397 31 7
                                    

"Apa ... sudah tiga?" sela Jallal kaget, sementara anggota keluarga lainnya pun bingung dan kikuk saat mereka menyadari kalau Bu Hamida kelepasan ngomong tentang anak-anak Bhaksi, karena yang Jallal ingat anak Bhaksi hanya satu. "Bukannya anaknya Bhaksi baru satu, si Mehtab kan? Kenapa sekarang jadi tiga? Kenapa cepat sekali?"

Seluruh anggota keluarga hanya terdiam dan bingung mau menjawab apa ke Jallal, penjelasan yang bagaimana yang akan mereka katakan ke Jallal. "Ibu ... Jodha ... kenapa kalian diam saja? Bukannya pernikahan kita baru berjalan dua tahun, lalu bagaimana bisa Bhaksi punya anak tiga?"

"Jallal ... ada yang harus kita bicarakan." Akhirnya Bu Hamida buka suara sambil menatap Jallal lekat, Jallal pun membalas menatap ibunya dengan ekspresi wajahnya yang penasaran. "Jodha, tolong ... ambilkan frame foto keluarga Bhaksi yang ada di kamar Ibu, Ibu taruh di laci di lemari kecil yang di bawah TV!" ujar Bu Hamida sambil menoleh ke Jodha yang duduk di sebelah Jallal, Jodha pun mengangguk dan bergegas berlalu menuju ke kamar ibu mertuanya.

"Ini sebenarnya ada apa sih, Bu? Kenapa jadi ... kayaknya penuh misteri seperti ini? Apa ada rahasia yang Ibu simpan di belakangku?" tanya Jallal heran.

"Sebenarnya nggak ada yang kami rahasiakan di belakangmu, Jallal. Ini semua kami lakukan demi kebaikanmu, demi kesehatanmu. Dengar baik-baik yaa ..." Jallal mengangguk dan menyimak ucapan ibunya, sementara yang lain hanya terdiam memperhatikan mereka berdua.

"Ibu ... ini frame fotonya," ujar Jodha sambil memberikan frame foto itu ke Bu Hamida, Bu Hamida menerimanya dengan posisi terbalik sambil mengangguk kecil dan tersenyum, jadi Jallal belum melihat foto di dalam frame foto itu.

"Foto siapa itu?"

"Ini foto keluarga Bhaksi ... kamu tahu kan kalau libur sekolah, Bhaksi sekeluarga pasti liburan di rumah kita?"

Jallal mengangguk. "Iyaa ... aku tahu ... Bhaksi dan keluarganya tinggal di Amerika kan? Lalu kenapa?" sela Jallal penasaran.

"Kamu juga tahu kan ... kalau besok Bhaksi sekeluarga akan datang ke sini dan liburan di rumah kita lagi." Jallal mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang bingung. "Nah ... kali ini Bhaksi akan datang sama ketiga anaknya, Jallal ..." lanjut Bu Hamida sambil mengangguk sambil pelan-pelan menjelaskan ke Jallal, agar Jallal tidak kaget mendengar kenyataan yang sebenarnya.

"Iyaa ... Jallal, sekarang ... anak Bhaksi ada tiga, yang pertama Mehtab, saat ini usianya sudah 8 tahun." Jallal tercengang. "Lalu yang kedua, namanya Emran, laki-laki, usianya baru 5 tahun dan yang ketiga, perempuan baru 1 tahun, namanya Kai ... Kaifiya, ini foto mereka Jallal," jelas Bu Hamida sambil menunjukkan foto itu ke Jallal.

Jallal kaget saat melihat foto frame tersebut, dimana Bhaksi dan Syarifudin sedang berpose bareng ketiga anak mereka dengan latar belakang patung Liberty.

"Mehtab ..." gumam Jallal sambil menatap foto Mehtab yang sudah besar, karena dalam ingatannya, Jallal mengira kalau Mehtab baru berusia 4 tahun. Jallal ingat saat Mehtab lahir, waktu itu Bhaksi sengaja pulang ke Jakarta, untuk melahirkan di sini.

"Iyaa ... ini Mehtab ... sekarang sudah besar, sayang ... sudah 8 tahun. Ibu memang sengaja menyimpan foto ini, supaya kamu nggak kaget."

Rukayah dan Bibi Maham Anga saling menatap satu sama lain sambil tersenyum senang, karena itu artinya ... sedikit demi sedikit Jallal akan tahu semuanya.

"Jadi maksud, Ibu ... aku sudah enam tahun menikah?" Bu Hamida mengangguk dengan rasa penuh haru, sementara Jodha hanya terdiam. "Jadi ... dengan kata lain ... aku lupa dengan kenanganku selama empat tahun belakangan ini?"

"Iya ... sayang, menurut dokter ... kamu terkena amnesia, gara-gara kecelakaanmu itu, tapi ingat, sayang ... kamu jangan terlalu memikirkannya, jangan dipaksa kalau memang kamu nggak ingat. Karena kalau kamu semakin memaksanya, akan berakibat fatal untuk syaraf-syaraf di otakmu."

RENJANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang