"Maaf, aku nggak sengaja. Maaf yaa ..."
Sesaat Jallal terkesima, hatinya pun melelleh seperti coklat batangan yang dibakar di atasa tungku panas bersuhu 180 derajat celcius, ketika mata elangnya menatap ke arah Jodha yang berdiri di depannya dengan senyumnya yang manis dan lembut bagaikan permen marshmellow.
"Cantik ..."
"Apa ...? Apa kamu bilang ...?" tanya Jodha heran sambil mengusap-usap kepalanya.
"Oooh nggak, nggak papa ... masih sakit ya? Kata orangtua jaman dulu, kalau kepala kita terbentur sama kepala orang lain, maka kepala kita harus dibenturin lagi sama kepala orang itu."
"Buat apa ...?" Jodha jadi semakin heran.
"Yaaa itu mitos sih, katanya biar nggak benjol. Jadi gimana kalau kita benturin lagi kepala kita, biar nggak benjol? Tapi benturinnya pelan-pelan aja, kamu mau kan?" Jodha jadi canggung ketika Jallal, si laki-laki asing ini memintanya untuk membenturkan lagi kepala mereka berdua.
"Di sini ...?"
"Yaaa iyalah di sini, masa di rumah kamu? Lagian apa kamu nggak malu, kalau nanti kepala kamu benjol, begitu masuk kantor?"
"Iyaa juga sih ... apalagi aku mau presentasi di depan Pak Humayun," sahut Jodha cemas sambil meraba-raba keningnya.
"Apa ...? Pak Humayun ...? Pak Humayun yang punya gedung ini?" Jodha mengangguk cemas.
"Iyaa ... apalagi katanya hari ini anaknya mau datang, dia baru datang dari London, selama ini dia ngurusin bisnis ayahnya di sana. Nah sekarang kebetulan dia pulang, dia mau lihat presentasiku." Jallal menelan ludah dan terdiam menyimak ucapan Jodha. "Banyak yang bilang, kalau anaknya ini agak kritis dan bawel, kalau nggak sesuai dengan apa yang diinginkannya, bisa bubar semua."
"Oooh yaa ...?"
"Iya! Kamu nggak kenal sama anaknya Pak Humayun?" Jallal menggeleng kecil sambil tersenyum datar.
"Aku orang baru di sini, kalau gitu gimana kalau kita benturin lagi kepala kita? Kamu mau kan?" Jodha mengangguk mantap, entah itu mitos atau bukan, yang pasti Jodha tidak ingin penampilannya kali ini berantakan gara-gara benjol di keningnya. Mereka berdua lalu saling membenturkan kembali kepala mereka satu sama lain secara perlahan sambil tertawa konyol.
"Terimakasih ... lucu ya, kayak anak kecil aja. Oh ya, kenalkan aku Jodha ... kamu siapa?"
"Aku ...? Aku ... hmmm ... aku Jamal! Jamalludin! Nama kita sama ya, sama-sama dimulai dari huruf "J". Senang bertemu denganmu, ayoo kita masuk," sahut Jallal yang menyebut dirinya dengan nama Jamalludin bukan Jallaludin. "Kamu mau ke lantai berapa? Kita barengan aja naik liftnya."
"Okeee ... boleh aja ... aku mau ke lantai 17, kalau kamu?" tanya Jodha sambil berjalan beriringan bareng Jallal menuju ke lift yang terdapat di tengah lobby ruangan itu.
"Aku mau ke lantai lima ..."
"Oooh lantai lima ..." sahut Jodha sambil menunggu pintu lift terbuka. "Waduuuh ...!"
"Ada apa, Jo?" tanya Jallal penasaran ketika mendengar teriakan Jodha yang spontan sambil berdiri kaku di depan cermin yang berada diantara dua lift yang ada di depan mereka, sementara beberapa orang yang ada disekitar mereka, juga menatap heran ke arah Jallal dan Jodha.
"Lihat, Jamal! Keningku! Kamu bilang nggak benjol, lihat nih!" sungut Jodha sambil menunjuk ke arah keningnya yang sedikit menonjol alias benjol. Jallal tertawa kecil sambil menutup mulutnya, begitu melihat tonjolan kecil di kening Jodha, Jodha jadi semakin kesal dan segera berlalu dari sana.

KAMU SEDANG MEMBACA
RENJANA
RomanceBagaimana jadinya kalau sepasang suami istri yang sudah sepakat untuk pisah dan bercerai, tiba-tiba memutuskan menangguhkan kasusnya, setelah adanya sebuah peristiwa yang menyadarkan mereka berdua, kalau mereka masih saling mencintai satu sama lain.