BAB 13 - ramah tamah

412 30 5
                                    

"Selamat pagi, Jodha ... apa Ibu ganggu kamu?" tanya Bu Meinawati via ponsel, saat Jodha selesai meeting dengan klien.

"Nggak, Bu. Ini kebetulan aku sudah selesai meeting. Gimana, Ibu sudah sampai Jakarta?"

"Iyaa ... Ibu sudah sampai Jakarta, tapi Ibu sudah dijemput sama sopirnya Jallal. Tadi Jallal telfon Ibu dan ngabarin kalau sopirnya sudah stand by di bandara, jadi kamu nggak usah jemput," sahut Bu Meinawati sambil berjalan menghampiri sopir Jallal yang sudah menunggunya sedari tadi.

"Ooh gitu ... syukurlah, kalau sopirnya Jallal sudah jemput, Ibu. Kalau gitu Ibu langsung ke rumah saja ya, sampai ketemu nanti sore di rumah, daah Ibu!"

Jodha segera mematikan ponselnya dan menghela nafas lega sambil menoleh ke Suryaban yang sudah berdiri di sebelahnya dengan senyum manisnya.

"Kenapa? Ibumu sudah datang? Mau jemput ibumu?"

Jodha menggeleng sambil tersenyum. "Nggak ... aku nggak jadi jemput Ibu, karena Jallal sudah nyuruh sopirnya untuk jemput Ibu di bandara, syukurlah. Jadi tugasku agak ringan, nggak harus kebut-kebutan di jalan," sahut Jodha. "Gimana? Udah beres semuanya kan? Yuuk ... cari makan dulu! Laper nih!"

"Ayoook! Perutku juga udah keroncongan dari tadi!"

Bergegas Jodha dan Suryaban meninggalkan tempat itu dan beralih menuju ke sebuah restaurant favourite mereka untuk menikmati makan siang. Namun, tanpa mereka duga ternyata, ada seseorang yang sedari tadi mengikuti mereka berdua.

"Malam ini ... kita harus lembur proyek Pak Haidar, Jo! Aku rasa ... kalau kita kerjakan lebih awal, maka revisinya nggak gitu mepet."

Jodha menggeleng sambil menyesap minumannya. "Malam ini aku nggak bisa, Sur. Jallal minta aku pulang agak cepet, dia malah minta dimasakkin segala. Jadi ... aku harus pulang agak sorean. Sorry banget ..."

"Tapi ini Pak Haidar, Jo ... kamu tahu kan betapa bawel dan ribetnya dia?"

"Sur, please ... aku mohon. Ini juga nyangkut suamiku, saat ini dia lagi butuh perhatianku, jiwanya lagi labil, di-- ..."

"Dia bukan suamimu lagi, Jo! Ingat itu! Dia su-dah bu-kan sua-mi-mu lagi!" sela Suryaban kesal dan penuh penekanan pada setiap ucapannya.

"Okee ... okee ... aku memang udah di talak satu sama dia. Aku tahu, Sur ... kalau aku udah cerai sama dia secara agama, tapi apa dia tahu? Kamu sendiri tahu kan bagaimana kondisinya saat ini?"

Jodha menimpali ucapan Suryaban dan kembali menikmati makanan yang dipesannya dengan rasa kesal. Jodha sendiri sebenarnya juga tidak ingin dalam keadaan seperti ini, Jodha ingin statusnya jelas, tapi rasanya tidak mungkin meminta kepastian itu ke Jallal. Sesaat mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.

Tanpa Jodha sadari ada saus yang menempel di ujung bibirnya, reflek Suryaban tiba-tiba menghapus bekas saus itu dengan tissue yang ada di atas meja dan ternyata moment itu di video oleh orang yang membuntuti mereka. Apalagi saat Jodha dan Suryaban saling menatap satu sama lain, lalu Jodha mengambil tissue itu dari tangan Suryaban. Semuanya terekam dalam sebuah video via ponsel dari orang yang duduk tidak jauh dari mereka.

"Terimakasih, nggak usah repot, Sur ... aku bisa ngelap sendiri kok," ujar Jodha sambil mengambil tissue itu dari tangan Suryaban, lalu mengelap bibirnya sendiri.

"Sorry, aku cuma reflek aja tadi ... waktu lihat ada saus di ujung bibirmu," sahut Suryaban canggung.

"It's okay ... nggak papa, tapi yang pasti ... hari ini aku nggak bisa nglembur, aku harap kamu bisa ngerti. Mungkin ... akan aku cicil di rumah kalau ada waktu."

RENJANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang