17. Baja dan Gengsi

51 9 13
                                        

"H-hah?" ujarku refleks masih tak bisa mencerna ucapan Gama barusan.
Seharusnya aku tak perlu terlalu kaget hingga membuat wajahku seperti orang bodoh saat ini. Namun, mendengar pernyataan Gama secara terang-terangan soal perasaannya padaku seperti ini ternyata lumayan membuatku jantungku berolahraga.

Aku bisa melihat gerlingan manis Gama menertawakan ekspresiku. Boleh tidak sih aku menutup wajahnya dengan benda apapun agar tak ada orang lain yang bisa menikmati wajah menggemaskan itu.

Astaga, sadar Bianca.

"Budek lo." komentar Gama pelan sebelum akhirnya ia mundur beberapa langkah. Aku hanya mengernyit bingung, tak mengerti dengan apa yang hendak pemuda itu lakukan.

Namun, tiba-tiba ribuan rintik air mulai turun dari atas.

Iya, atas. Bukan langit, karena aku bisa melihat dengan jelas selang air yang sengaja disemburkan ke arah atas, oleh beberapa teman-teman dekat Gama yang saat ini tengah tertawa bahagia sembari asyik menyemprotkan air di pinggir parkiran.

Dalam hitungan detik, parkiran sudah menjadi basah, tak terkecuali sweater yang membungkus seragamku. Aku memandang Gama bingung, namun yang kudapati adalah cengiran lucu Gama yang tampak memancarkan aura kebahagiaan.

"Bianca. Gue tahu, nggak susah buat cewek lain nerima keadaan gue yang terkenal bejat di sekolah." seru Gama membuat atensiku sepenuhnya terfokus pada pemuda itu. Aku bisa melihat beberapa murid yang terjaga agak jauh dari parkiran karena tak ingin ikut basah kuyup, menyaksikan aksi 'gila' Gama dengan saksama. Namun, aku sama sekali tak peduli.

"Tapi, ini pertama kalinya gue lihat cewek sehati-hati lo. Yang selalu mikirin perasaan orang lain. Yang selalu mikirin banyak hal dan mertimbangin semuanya. Gue tahu, lo lagi hati-hati supaya nggak salah jatuh cinta. Tapi, gue mau ngasih tau lo aja satu hal." ucapan Gama terjeda saat ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lalu, tanpa aba-aba ia melempar sebuah bola oranye ke arahku.

Itu bola basket. Bola favoritku.

Namun, aku menemukan kejanggalan saat melihat ada yang aneh dari bola basket itu. Ada coretan-coretan spidol hitam di atasnya yang tampak sedikit luntur akibat terkena air. Pandanganku sedikit mengabur karena air yang tak berhenti mengucur, namun aku masih bisa melihat jelas apa tulisan yang ada di sana.

'Would you be my girlfriend?'

"Lo, nggak salah jatuh cinta sama gue, Bi. Jadi, would you be my girlfriend, Bianca Shakira?"

Aku menoleh kaget ke arah Gama yang tampak mengulurkan tangan ke arahku. Tunggu, semuanya terlalu susah untuk dicerna.

Bola basket ini, ucapannya barusan, apakah ini nyata?

Gama, pemuda bermental baja, berhati batu, dan tak kenal menyerah ini baru saja menyatakan perasaannya padaku?

"Kalo lo terima gue, lo boleh simpen bolanya, tapi kalo lo nolak, lo bisa balikin bolanya ke gue." tutur Gama lagi sukses membuat kupu-kupu beterbangan di perutku. Jantungku berdebar hebat dengan aku yang mulai merasakan panas menjalar di sekitar pipi.

Astaga, pasti pipiku semerah tomat sekarang.

"Jadi, your answer, Miss?" Gama menatapku dengan poninya yang jatuh dan jaket bomber hitamnya yang sudah basah kuyup. Bisakah aku mengatakan kalau Gama terlihat seribu kali lebih tampan dengan rambut basahnya.

Aku sadar, kesempatan seperti ini tak mungkin kudapatkan dua kali. Gama, pemuda ini tak pernah menyerah padaku walau aku sudah membuatnya kecewa besar dua kali. Kukira, ia akan mundur. Sudah menyerah akan diriku yang susah dipahami.

Namun, gilanya, dia malah berdiri disini sekarang, menunggu jawabanku dengan wajahnya yang sengaja ia buat setenang mungkin. Walau aku masih bisa melihat raut gugupnya.

Sekarang, tolong beri tahu aku apakah ada alasanku untuk menolak Gama?

"Iya, gue mau."

Tentu saja tidak ada.

Hari ini, pukul 15.45, aku, Bianca Shakira, si gadis penuh gengsi ini sudah resmi mengakui bahwa aku telah jatuh hati pada pemuda 'nakal' di hadapanku ini.

Gama tersenyum sumringah. Tampak sekali ia hendak memelukku namun ia tahan karena ingat tatapan beberapa murid di sekitar kami yang tampak menyoroti pergerakan  kami.

Aku terkekeh kecil, meraih tangan Gama untuk ku genggam. Sangat pas, seperti tangan itu sengaja diciptakan untukku.

Bila memang aku tak berjodoh dengannya, sepertinya aku tak akan menyesal, setidaknya aku pernah merasa bahagia karena memiliki pacar pertama seperti Gama.

Teman-temanku benar, sekarang adalah saatnya untukku menutup mata dan telinga. Aku berhak bahagia, aku berhak menjadi diriku sendiri, aku berhak untuk menuruti kemauanku sendiri. Tanpa harus repot mendengar komentar orang lain.

Ini hidupku, hanya aku yang bisa mengaturnya.

o q a n t a

"Bi!" Deretan gigi putih Gama menyambutku yang baru saja keluar dari pintu utama gedung DBL. Astaga, moodboaster pribadiku ini memang selalu sukses membuat semangatku kembali. Padahal, aku baru saja habis-habisan menggunakan tenagaku yang harus bermain empat quarter sekaligus karena kaptenku yang cidera di pertengahan quater kedua.

Namun, melihat senyum merekah Gama seperti mengisi energiku kembali.

Tak terasa kami sudah di kelas dua belas sekarang. Dan, DBL adalah lomba terakhirku sebelum aku akan benar-benar fokus dengan sibuknya dunia kelas dua belas.

Namun, lagi dan lagi, aku tak bosan. Karena, aku punya Gama disisiku. Dan, tentunya para orang-orang yang sangat amat menyayangiku.

"Cieee, menang. Selamat, ya!" ujar Gama mengacak pelan rambutku yang aku kuncir kuda. Aku mendengus malu, namun tak pelak terkekeh kecil.

"Iyalah, gimana mau nggak menang. Si anak futsal yang gengsinya gede sama anak basket ini bela-belain dateng buat aku. Masa aku harus kalah?" balasku disambut kekehan kecil Gama.

Lalu, tangan besar pemuda itu beralih menyelipkan jari-jarinya pada ruang tanganku yang kosong. "Oke, karena kamu menang. Hari ini kamu bebas mau minta apa aja!" seru pemuda itu semangat langsung kusambut dengan semangat.

"Beneran?! Mau ayam geprek level 10 boleh?!" ujarku menggebu-gebu langsung memunculkan raut menyesal Gama.

Pemuda itu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Eung...yang lain?"

"Dih?" protesku tak terima.

Namun, Gama cepat-cepat merubah ekspresi. Tangan kanannya yang tak menggenggam tangan kiriku ia naikkan, dan berhenti di dekat alis, jadi membentuk posisi hormat.

"Siap, anything for you, princess!"

Bucin. Dasar.

Tapi tak apa. Karena ini Gama. Apapun tentang Gama, pasti aku suka. Selalu.

END.

a/n

Aku mau ceritaa. Huhu, terharu banget. Akhirnya aku bisa selesain satu bukuku. Serius, entah berapa banyak draft yang aku punya masih kesegel rapet-rapet cuma karena aku tuh kehilangan ide. Ini aja baru selesai berapa bulan ya? apa nyampe setahun? buset.

Padahal cuma 17 chapt. Tapii, apapun itu seneng bangett banyak yang baca walaupun akhir-akhir ini peminat buku ini berkurang. Gapapa, aku tetep semangat kok liatnya! Makasih banyak yaa! Terutama yang udah ngasih vote dan sering komen! Aku bakal berusaha buat bikin buku lain dengan kualitas yang lebih bagus! Sekali lagi makasih banyaaak!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 22, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ElefantTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang