#4

51 7 0
                                    

Saat ini, Jaehwan sedang berada di rumah pohon yang terletak di taman belakang kampusnya. Tidak banyak yang tahu rumah pohon itu, karena banyak mahasiswa yang mempercayai rumor kalau taman belakang kampus mereka itu angker, bahkan Jihoo juga tidak pernah bersedia untuk ikut Jaehwan ke tempat ini. Tapi, memang pada dasarnya Jaehwan itu orang yang bodo amat, Jaehwan tetap mengunjungi taman belakang ini dan merawat rumah pohonnya dengan baik.

Sebetulnya, hari ini Jaehwan ada kelas siang pukul satu. Namun kesialan kembali menimpa Jaehwan. Jaehwan terlanjur tertidur di rumah pohonnya sampai pukul satu lebih lima belas menit, ditambah lagi diluar sedang turun hujan deras. Akhirnya Jaehwan memilih untuk bolos karena Jaehwan tidak bisa turun dari rumah pohonnya saat hujan seperti ini, tangganya licin. Entah apa yang terjadi, akhir-akhir ini Seoul sering diserang hujan deras. Mungkin langitnya galau.

Saat sedang menikmati kegabutan yang hakiki sambil bersandar dalam rumah pohonnya, Jaehwan tidak sengaja melihat Guanlin yang sedang menerobos hujan. Bajunya basah kuyup, damn, Guanlin terlihat sangat seksi.



BUKAN!!!



Jaehwan tersadar dari lamunannya, dan baru tersadar kalau Guanlin terlihat kedinginan. Jaehwan segera membuka pintu masuk rumah pohonnya lalu melambaikan tangan pada Guanlin, berharap Guanlin melihatnya.

"Guanlin!"

Guanlin menoleh pada Jaehwan saat Jaehwan meneriaki namanya, lalu membelakkan mata melihat Jaehwan yang sedang melambaikan tangan dari rumah pohon yang ada di taman belakang kampus. Guanlin benar-benar terkejut.

"What theㅡ"

"Cepat kesini!"

Meskipun Guanlin agak takut untuk mendekati Jaehwan, namun dengan terpaksa Guanlin tetap melangkah memasuki area taman belakang kampus untuk mendekati Jaehwan.

"Sunbae, sedang apa?"

"Cepat naik!"

"Disana tidak ada hantu?"

Jaehwan mendecak kesal mendengar pertanyaan Guanlin lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menjawab pertanyaan Guanlin. Memang benar kok, Jaehwan sering datang ke sini bahkan saat malam hari, dan Jaehwan tidak pernah melihat hantu disana. Jaehwan mengulurkan tangannya pada Guanlin, berniat membantu Guanlin untuk naik.

Guanlin tidak membalas uluran tangan Jaehwan, Guanlin sempat selama beberapa saat karena merasak agak ragu untuk masuk ke rumah pohon tersebut, namun akhirnya Guanlin menerima uluran tangan Jaehwan untuk masuk ke dalam rumah pohon itu.

"Setidaknya kamu bisa berteduh disini terlebih dahulu."

"Sunbae sering bermain di rumah pohon ini?"

"Aku lebih suka mengerjakan tugas sambil membawa gitar di rumah pohon ini dari pada di rumah atau studio Fakultas, bahkan sampai malam hari. Disini benar-benar tidak ada hantu kok."

Guanlin tertawa kecil menanggapi jawaban Jaehwan. Tapi, tunggu dulu, wajah Guanlin terlihat pucat dan tubuhnya bergetar karena menggigil.

"Guanlin, kamu baik-baik sajㅡ"

Sebelum Jaehwan sempat menyelesaikan pertanyaannya, Guanlin sudah kehilangan kesadarannya. Kepalanya terjatuh bersandar pada pundak Jaehwan.



Antara kaget dan degdegan jadi satu gais.



Dengan ragu, Jaehwan memegang kening Guanlin untuk memeriksa suhu tubuh Guanlin. Keningnya terasa panas, panas sekali. Jaehwan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang ada dipikirannya adalah hanya menghubungi Jihoon.

"Jihoon!"

Setelah Jihoon mengangkat teleponnya, Jaehwan langsung memanggil nama Jihoon. Membuat Jihoon disebrang sana terkejut karena Jaehwan tanpa basi basi langsung meneriaki namanya, bahkan tanpa say hello terlebih dahulu. Sepertinya, Jaehwan sedang dalam keadaan panik.

"Ada apa sih, Jaehwan? Di kelas ada kuis mendadak?"

"Hah? Tidak tahu! Aku juga tidak masuk kelas! Aku sekarang bersama Guanlin di rumah pohon belakang kampus."

Jaehwan menunggu jawaban dari Jihoon, namun Jihoon tidak kunjung memberikan jawaban. Jaehwan mulai takut kalau Jihoon pingsan juga disebrang sana.

"Jihoon? Kamu masih disana? Kamu baik-baik saja 'kan?"

"Jaehwan."

"Iya?"

"Sedang apa kamu di tempat angker itu? Dan ... kenapa kamu berdua dengan Guanlin di tempat sempit itu? Kalian tidak melakukan hal aneh-aneh 'kan?"

Wajah Jaehwan benar-benar memerah padam mendengar pertanyaan Jihoon, tapi rasanya ingin sekali Jaehwan menonjok wajah Jihoon saat bertemu nanti.

"Aneh-aneh apanya? Guanlin demam, badannya menggigil, wajahnya pucat dan dia sudah tidak sadarkan diri. Aku harus apa?"

Terdengar sebuah o panjang dari Jihoon setelah Jaehwan menjelaskan keadaan Guanlin saat ini.

"Dia pasti habis kehujanan ya?"

"Iya. Tadi dia menerobos hujan. Karena bajunya sudah terlihat basah, aku ajak dia masuk ke sini untuk berteduh."

"Sudah aku bilang 'kan kalau anak itu sakit-sakitan. Kalau begitu, cukup ganti bajunya dengan baju kering dan hangatkan dia bagaimanapun caranya. Itu saja. Sudah ya, aku juga terjebak hujan bersama Woojin nih. Dadah."

Jaehwan melongo setelah Jihoon menutup telepon itu tanpa menunggu Jaehwan menjawab. Jaehwan menoleh pada Guanlin yang masih menggigil kedinginan disebelahnya, bahkan belum membuka matanya sama sekali.

"Serius aku harus buka bajunya? Yah ... baju yang basah hanya baju atas saja sih, tapi ... SERIUS?!"















TO BE CONTINUED

[ PANHWAN ] STAY WITH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang