#6

47 6 3
                                    

Hari ini merupakan hari yang Jaehwan tunggu-tunggu. Harusnya. Hari ini adalah hari pertama sejak Jaehwan resmi memasuki club seni. Walau Jaehwan cukup bosan karena Jaehwan sendiri berasal dari Fakultas Seni dan club yang diikutinya sekarang juga seni, namun Jaehwan tidak merasa keberatan selama Jaehwan bisa memandangi Guanlin secara dekat dalam waktu sekitar dua jam.

Harusnya, hari ini sudah menjadi hari yang menyenangkan untuk Jaehwan. Sampai akhirnya, seorang gadis menghancurkan semua ekspetasi Jaehwan.

"Guanlin!"

Jaehwan sangat mengenal gadis itu. Dia merupakan mahasiswi yang berada dalam satu angkatan dengan Jaehwan, namanya Yeh Shuhua. Dia terlihat sangat dekat dengan Guanlin. Entah apa yang membuat mereka bisa sedekat itu. Yang jelas, melihat Guanlin tersenyum dan tertawa bersama Shuhua membuat hati Jaehwan sakit.















#6















Sungguh, Jihoon tidak mengerti Sepulang dari club seni, Jaehwan justru tidak keluar dengan ekspresi senang sama sekali. Jaehwan justru langsung mengajak Jihoon untuk berkunjung ke rumahnya hanya untuk menemani Jaehwan menangis. Tanpa penjelasan apapun.

"Jjaen, sungguh aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan kalau kamu hanya diam dan menangis tanpa menjelaskan apapun padaku."

"Aku mau mundur saja, Jihoon."

Jihoon membulatkan matanya, terkejut. Masalahnya, saat ini mereka sedang berada di sisi balkon kamar Jaehwan. Kalau Jaehwan mundur Jaehwan bisa jatuh dari balkon tersebut.

"Jjaen, apapun masalahmu tolong jangan bunuh diri."

Jaehwan berhenti menangis, menyipitkan matanya karena tiba-tiba Jihoon menjadi melankolis seperti ini. Jihoon langsung memeluknya dengan dramatis seperti adegan dalam drama.

"Siapa yang mau bunuh diri?"

"Kamu bilang mau mundur? Kalau kamu mundur kamu bisa jatuh dari sini."

"Bodoh! Bukan yang itu yang aku maksud! Aku mau mundur untuk mengejar Guanlin, aku berhenti."

Jihoon menghela nafas lega walau harus mendapatkan jitakan keras dari Jaehwan. Setidaknya sahabatnya ini tidak nekat untuk bunuh diri. Namun beberapa saat kemudian matanya kembali membulat lebar menyadari kalimat terakhir yang Jaehwan ucapkan tadi.

"APA? KENAPA? ADA MASALAH APA?"

"Sepertinya tidak akan ada ruang untukku dihati Guanlin."

"Kamu sudah confess?"

"Belum."

Sabar. Jihoon mencoba untuk sabar walau dalam hati Jihoon ingin melakukan aksi sleding pada kepala Jaehwan. Sepertinya otak Jaehwan sedang tidak beres karena tiba-tiba menyimpulkan sendiri tanpa bertanya langsung pada orangnya.

"Lalu bagaimana kamu tau kalau tidak ada ruang untuk kamu dihati Guanlin kalau kamu belum bicara langsung padanya soal ini?"

"Lupakan saja, sepertinya Guanlin lebih suka wanita."

Jihoon diam sejenak. Jihoon bingung setelah mendengar jawaban Jaehwan, karena sampai detik ini Jihoon belum pernah melihat sepupunya itu mendekati satu wanita. Guanlin memang ramah pada semua orang, tapi jika orang itu sudah mulai baper padanya, Guanlin akan berubah jadi orang yang sangat dingin. Jihoon tidak mengerti apa yang terjadi di club seni tadi sampai Jaehwan bisa menyimpulkan kalau Guanlin menyukai wanita.

[ PANHWAN ] STAY WITH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang